
Perubahan siklus menstruasi, gangguan tidur, hingga sulit konsentrasi bisa jadi tanda perimenopause. Mengenali ini membantu perempuan memahami dan merawat tubuhnya - read more
Ada fase dalam kehidupan perempuan ketika tubuh mulai mengalami perubahan yang tidak selalu mudah dikenali. Siklus menstruasi yang sebelumnya teratur mulai bergeser, tidur terasa kurang nyenyak, suasana hati berubah, atau pikiran terasa lebih sulit berkonsentrasi. Sebagian perempuan mungkin menganggapnya sebagai akibat kelelahan atau bertambahnya usia, tanpa menyadari bahwa perubahan tersebut dapat berkaitan dengan perimenopause.
Perimenopause dan menopause merupakan bagian alami dari perjalanan hidup perempuan. Namun, keduanya masih kerap menjadi topik yang jarang dibicarakan secara terbuka. Padahal, perubahan hormonal pada fase ini dapat memengaruhi kesehatan fisik, kondisi emosional, hingga kualitas hidup. Tanpa informasi yang memadai, perempuan bisa kesulitan memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya dan menentukan bentuk perawatan yang sesuai.
Mengenal Perimenopause dan Menopause
Perimenopause merupakan masa transisi menuju menopause, ketika produksi hormon, terutama estrogen, mulai berubah dan kadar hormon dapat berfluktuasi. Pada fase ini, perempuan dapat mengalami perubahan siklus menstruasi serta berbagai gejala fisik dan emosional. Perimenopause berlangsung dengan durasi yang berbeda pada setiap perempuan, sehingga pengalaman yang dialami pun tidak selalu sama.
Sementara itu, menopause secara medis ditandai ketika seorang perempuan tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut dan tidak ada penyebab lain yang menjelaskan kondisi tersebut. Setelah melewati fase ini, perempuan memasuki masa pascamenopause.
Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan menstruasi. Fluktuasi dan penurunan hormon dapat menyertai gejala seperti sensasi panas mendadak atau hot flashes, gangguan tidur, perubahan suasana hati, serta keluhan pada kesehatan seksual dan intimasi. Sebagian perempuan juga mengalami brain fog, istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesulitan berkonsentrasi, merasa pikiran melambat, atau lebih mudah lupa.
Tidak semua perempuan mengalami gejala yang sama. Ada yang merasakan perubahan cukup ringan, sementara yang lain menghadapi keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, memahami kemungkinan perubahan yang terjadi menjadi penting, bukan untuk membuat perempuan merasa khawatir, melainkan agar mereka dapat mengenali tubuhnya dan mencari bantuan ketika dibutuhkan.

Merawat Tubuh, Bukan Hanya Penampilan
Perhatian terhadap kesehatan di masa perimenopause dan menopause sering kali berpusat pada perubahan yang terlihat dari luar. Padahal, ada aspek kesehatan lain yang juga perlu diperhatikan, termasuk kondisi otot dan tulang.
Penurunan estrogen setelah menopause berkaitan dengan meningkatnya risiko kehilangan kepadatan tulang. Seiring bertambahnya usia, perempuan juga berisiko mengalami sarkopenia, yaitu penurunan massa, kekuatan, dan fungsi otot secara bertahap. Kondisi ini dapat memengaruhi kekuatan tubuh dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.
Salah satu bentuk aktivitas yang dapat membantu menjaga kekuatan otot dan kesehatan tulang adalah strength training atau latihan kekuatan, termasuk latihan beban yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Meski masih ada anggapan bahwa latihan beban akan membuat tubuh perempuan terlihat seperti binaragawan, latihan ini memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar membentuk penampilan.
Latihan kekuatan dapat membantu mempertahankan massa dan fungsi otot serta mendukung kesehatan tulang. Jika dilakukan secara teratur dan sesuai kondisi tubuh, aktivitas ini juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kebugaran dan mengelola perubahan komposisi tubuh seiring bertambahnya usia.
Selain berolahraga, pola hidup sehari-hari turut berperan. Asupan protein yang cukup mendukung pemeliharaan otot, sementara tidur yang berkualitas membantu pemulihan tubuh. Kebutuhan setiap perempuan dapat berbeda, sehingga pilihan aktivitas, pola makan, dan perawatan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Perubahan pada fase ini juga tidak hanya bersifat fisik. Kecemasan, gangguan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi dapat memengaruhi keseharian serta perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri. Karena itu, mendengarkan tubuh menjadi sama pentingnya dengan menjaga kebugaran.
Dalam sesi edukasi di RISE & BLOOM, dr. Dinda Derdmeisya, Sp.OG, Chief Medical Officer Magnolia Collective Wellness Indonesia, mengajak perempuan yang mulai mengalami perimenopause untuk lebih memperhatikan apa yang dirasakan tubuhnya, bukan semata-mata penampilan atau pendapat orang lain.
Jika gejala mulai mengganggu aktivitas, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu perempuan memahami kemungkinan penyebabnya dan mendiskusikan pilihan penanganan yang sesuai. Pilihan tersebut dapat berbeda-beda, termasuk ketika membahas terapi penggantian hormon atau Hormone Replacement Therapy (HRT), yang memerlukan penilaian medis berdasarkan kondisi dan riwayat kesehatan masing-masing.
Rise & Bloom, Membuka Percakapan tentang Kesehatan Perempuan
Pentingnya pemahaman dan dukungan bagi perempuan di fase ini menjadi latar belakang penyelenggaraan RISE & BLOOM, sebuah acara yang digagas We Pause We Rise bersama Magnolia Collective Wellness. Digelar di Hallf Patiunus, Jakarta Selatan, pada 18 Oktober 2026, acara ini bertepatan dengan peringatan Hari Menopause Sedunia atau International Menopause Day.
Mengusung tema Midlife Renewal Starts Here, RISE & BLOOM dirancang sebagai pengalaman sehari penuh yang menggabungkan edukasi kesehatan, aktivitas kebugaran, percakapan terbuka, dan dukungan komunitas. Melalui berbagai sesi, peserta diajak mengenali perubahan hormonal, memahami gejala perimenopause dan menopause, serta mempelajari beragam aspek kesehatan yang berkaitan dengan fase tersebut.
Diskusi yang dihadirkan mencakup pilihan penanganan, termasuk HRT, nutrisi, kesehatan mental, mindfulness, serta kesehatan seksual dan intimasi. Para ahli dan praktisi dari berbagai bidang berbagi pengetahuan agar perempuan memiliki kesempatan untuk memperoleh informasi yang relevan sekaligus memahami bahwa pengalaman mereka tidak harus dijalani sendirian.
Selain sesi edukasi, acara ini menghadirkan aktivitas yang menggabungkan gerak, relaksasi, ekspresi diri, dan interaksi sosial. Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah Runway After 40, peragaan busana yang merayakan kepercayaan diri, keindahan, dan ekspresi personal perempuan di usia yang lebih matang.
Bagi Mia Lukmanto, Founder We Pause We Rise, perimenopause dan menopause bukanlah akhir dari perjalanan seorang perempuan, melainkan awal dari babak baru yang tetap menyimpan potensi dan kesempatan untuk bertumbuh.
Melalui RISE & BLOOM, ia berharap tersedia ruang yang aman bagi perempuan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan memperoleh dukungan. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa informasi yang tepat dan komunitas yang suportif dapat membantu perempuan menjalani perubahan dengan lebih percaya diri.
Pada akhirnya, memahami perimenopause dan menopause bukan hanya soal mengenali gejala, tetapi juga tentang memberi perhatian yang layak pada kesehatan perempuan di setiap tahap kehidupannya. Perubahan yang terjadi tidak perlu disikapi dengan rasa malu atau dianggap sebagai sesuatu yang harus dihadapi sendirian. Dengan pengetahuan, dukungan, dan perawatan yang sesuai, fase ini dapat dijalani sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tetap memberi ruang bagi kesehatan, kebugaran, dan pertumbuhan pribadi.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of We Pause We Raise
