Kenali Siklus Menstruasi dan Gejalanya

menstruasi
Share to:
Meski terjadi setiap bulan, tapi tidak semua dari kita paham mengenai siklus menstruasi, yuk belajar! - read more

Tengah berada di salah satu coffee shop, tanpa sengaja saya mendengar percakapan antar dua perempuan muda. Salah satu dari mereka terlihat memegang perut sambil meringis menahan sakit. Sepertinya sedang menstruasi hari pertama.

”Kok kamu sudah mens lagi? Bulan lalu kan kita bareng. Aku aja belum ada tanda-tanda,” ujar perempuan pertama.

“Iya, kenapa ya? Mungkin siklusnya beda,” jawab perempuan yang memegang perut.

Nah, mungkin banyak yang belum paham bahwa siklus menstruasi pada perempuan memang berbeda-beda, mulai dari 21 – 35 hari. Saat menstruasi, lapisan dinding rahim (endometrium) dan sel telur yang tidak dibuahi akan meluruh keluar melalui vagina. Selama proses tersebut, ada beberapa fase siklus menstruasi yang umum terjadi dan berlangsung secara teratur setiap bulannya.

Fase siklus menstruasi setiap wanita umumnya terbagi menjadi 3, yaitu fase menstruasi, fase praovulasi dan ovulasi, serta fase pramenstruasi. Berbagai fase tersebut dipengaruhi oleh hormon-hormon dalam tubuh yang berperan dalam mengatur siklus menstruasi.

Fase Siklus Menstruasi
1. Fase menstruasi

Fase menstruasi terjadi selama 2–7 hari. Pada fase ini, lapisan dinding rahim dan sel telur akan meluruh menjadi darah menstruasi. Banyaknya darah yang keluar bisa berkisar antara 30–40 mililiter.

Selama 3 hari pertama, darah menstruasi yang keluar akan lebih banyak, biasanya diiringi nyeri atau kram di bagian panggul, perut, dan punggung. Kondisi ini dipicu oleh kontraksi rahim yang terjadi karena adanya peningkatan hormon prostaglandin.

Meski memicu rasa sakit, kontraksi tersebut berfungsi mendorong dan mengeluarkan lapisan dinding rahim yang luruh menjadi darah menstruasi. Pada masa ini juga kerap terjadi beberapa gejala seperti, perubahan mood, sakit kepala, dan perubahan nafsu makan.

See also  Primaya Hospital Tangerang Hadirkan Inovasi Kardiovaskular
2. Fase praovulasi dan ovulasi

Pada fase praovulasi, lapisan dinding rahim yang sempat luruh akan mulai menebal kembali. Proses penebalan berfungsi untuk mempersiapkan rahim agar bisa ditempati oleh sel telur bila terjadi pembuahan oleh sperma. Proses ini bisa terjadi pada masa subur atau ovulasi.

Pada saat ovulasi, folikel yang dominan akan pecah dan mengeluarkan sel telur, kemudian bergerak menuju rahim melalui tuba falopi. Sel telur tersebut dapat dibuahi hingga 24 jam setelah dikeluarkan.

Bagi pasangan yang sedang program membuat anak, sebaiknya lakukan hubungan intim pada fase ini atau menjelangnya. Kenapa? Karena fase ovulasi merupakan waktu terbaik yang memungkinkan terjadinya pembuahan.

Masa subur biasanya terjadi pada 14 hari setelah hari pertama haid terakhir. Namun, perkiraan masa ovulasi setiap perempuan berbeda. Masa ovulasi pun bisa berubah terutama pada mereka yang menstruasinya tidak teratur.

3. Pramenstruasi

Pada fase ini, lapisan dinding rahim makin menebal, karena folikel yang pecah dan mengeluarkan sel telur akan membentuk korpus luteum, yaitu jaringan yang terbentuk di ovarium dan berperan dalam produksi hormon progesteron yang membuat lapisan dinding rahim makin tebal.

Jika tidak terjadi pembuahan, akan mulai terasa gejala menstruasi atau PMS, seperti emosi tidak stabil dan perubahan kondisi fisik, seperti nyeri pada payudara, pusing, cepat lelah, atau perut kembung.

Selain gejala tersebut, korpus luteum akan mengalami degenerasi dan berhenti memproduksi progesteron. Jika tidak terjadi pembuahan, kadar progesteron dan estrogen akan menurun, dan lapisan dinding rahim juga akan luruh.

By: Kazuri Team | Photo: pinterest

Sources: www.alodokter.com