
Panduan gaya hidup berkelas dari Primaya Hospital, menghadapi fase perimenopause agar tetap aktif dan produktif - read more
Memasuki usia 40-an adalah sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang perempuan. Di fase ini, banyak perempuan tengah berada di puncak karier sekaligus piawai menjalankan multiperan dalam keluarga. Namun, di balik riuh rendah produktivitas tersebut, tubuh mulai membisikkan perubahan biologis yang nyata: perimenopause.
Perimenopause merupakan masa transisi alami menuju menopause yang ditandai dengan fluktuasi hormon estrogen dan progesteron. Rata-rata perempuan mulai memasuki fase ini pada usia 47,5 tahun. Dengan angka harapan hidup perempuan yang kini mencapai sekitar 85 tahun, hampir sepertiga perjalanan hidup akan dijalani pada fase klimakterik ini. Oleh karena itu, mengenali perubahan tubuh sejak dini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah bentuk self-care yang berkelas.
Mendukung gerakan ini, Primaya Hospital berkolaborasi dengan Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli menggelar edukasi multidisiplin untuk membantu perempuan menjalani masa transisi ini dengan penuh percaya diri.

Menepis Tabu, Merangkul Pendampingan Medis yang Tepat
Setelah melahirkan, fokus perempuan kerap terbagi, untuk peran sebagai istri, ibu, maupun profesional, hingga mengabaikan sinyal dari tubuhnya sendiri. Padahal, gejala seperti siklus menstruasi tidak teratur, sulit tidur, mudah lelah, hingga perubahan suasana hati adalah proses biologis yang bisa dikelola dengan elegan.
“Perimenopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan, namun bukan berarti harus dijalani dengan rasa tidak nyaman,” ungkap Leona A. Karnali, CFA, FRM, CEO Primaya Hospital Group. “Banyak perempuan belum menyadari bahwa perubahan yang mereka rasakan dapat dikelola melalui edukasi dan pendampingan medis yang tepat. Yang terpenting, perempuan tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan hingga melakukan over treatment, tetapi memahami kapan harus mendapatkan pertolongan agar tidak terlambat.”
Langkah awal dari pengelolaan ini adalah dengan membuka percakapan yang jujur mengenai perubahan tubuh. Susanna Angraini, CEO & Co-Founder Yoona Women, meyakini prinsip ini.
“Perimenopause mengajarkan saya bahwa perubahan seperti tubuh yang lebih sensitif, stamina yang menurun, hingga leaky bladder adalah hal yang nyata dialami banyak perempuan,” kisah Susanna. “Sayangnya, isu perimenopause dan menstruasi masih sering dianggap tabu. Kita perlu mulai membuka percakapan agar perempuan tidak merasa sendirian dan lebih memahami tubuhnya, didukung produk yang lebih aman digunakan setiap hari, seperti pembalut bebas klorin.”

Fondasi Estetika dan Kebugaran Holistik di Usia Matang
Selain memengaruhi sistem reproduksi, perubahan hormon selama perimenopause juga berpengaruh pada metabolisme tubuh, densitas tulang, hingga kesehatan kulit dan rambut. Fluktuasi estrogen menyebabkan produksi kolagen dan elastin berkurang, yang berakibat pada kulit yang menjadi lebih tipis dan kering. Faktanya, sekitar 30% kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause.
Untuk mengatasinya, Wulan Maharani Tilaar, President Director Martha Tilaar SPA, mengajak perempuan untuk memandang fase ini sebagai momen terbaik untuk merawat diri secara holistik agar tetap sehat, bahagia, dan percaya diri.
Pendekatan holistik ini dapat dipadukan melalui beberapa pilar penting berikut:
- Nutrisi Seimbang: Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., Subsp.PK menekankan pentingnya pola makan bergizi seimbang untuk menjaga metabolisme, mempertahankan massa otot, serta menurunkan risiko penyakit kronis.
- Aktivitas Fisik Rutin: Mengingat sekitar 72,9% perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul, dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR mengungkapkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan bertahap berperan penting dalam menjaga kekuatan otot serta kesehatan tulang.
- Vitalitas Tubuh: Bagi yang menyukai harmoni tubuh, dr. Feliani, Sp.Ak menjelaskan bahwa akupuntur medis kini hadir sebagai opsi pelengkap yang sejalan dengan perkembangan medis untuk membantu menyeimbangkan dan mengembalikan vitalitas tubuh.

Menjaga Keseimbangan Emosional dan Produktivitas
Di tengah tuntutan pekerjaan, anak-anak yang mulai mandiri, dan orang tua yang menua, perubahan emosional di fase perimenopause terasa menantang. Namun, ketidakstabilan suasana hati ini memiliki landasan biologis yang valid.
“Perimenopause bukan membuat perempuan menjadi lebih sensitif tanpa sebab,” tutur dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc. “Perubahan suasana hati yang dialami merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering kali terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup. Penting bagi perempuan untuk mengelola stres melalui langkah sederhana seperti metode STOP (Stop sejenak, Tarik napas perlahan, Observasi, dan Pilih respons yang membantu).”
Pada akhirnya, fase transisi ini sama sekali bukan batasan bagi perempuan untuk terus bersinar di ranah profesional maupun personal.
“Perimenopause bukan akhir dari produktivitas perempuan,” tegas Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli. “Ketika kita memahami bahwa perubahan fokus, suasana hati, atau brain fog merupakan bagian dari proses biologis yang dapat dikelola, kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai beradaptasi. Dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, serta dukungan keluarga dan lingkungan kerja, perempuan tetap dapat berkarya, memimpin, dan berkembang di setiap fase kehidupannya.”
Menghadapi perimenopause dengan keanggunan dan persiapan yang matang adalah wujud apresiasi tertinggi terhadap diri sendiri. Jadikan fase second bloom ini sebagai panggung baru untuk tampil lebih sehat, aktif, dan produktif.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of Primaya Hospital
