
Di balik rantai pangan dan meja makan kita, ada kisah perjuangan hening para perempuan tangguh di perdesaan - read more
Perempuan memegang peran yang sangat krusial dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat, mulai dari proses bercocok tanam, pengelolaan hasil laut, hingga jalur distribusi. Data Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat bahwa sekitar 41% tenaga kerja sektor pertanian dunia adalah perempuan. Di Indonesia sendiri, ada lebih dari 14,8 juta perempuan yang aktif menggantungkan hidup dan keterampilannya di sektor pertanian dan perkebunan.
Meski perannya sangat vital, para perempuan di perdesaan masih sering menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses modal, literasi keuangan digital, hingga perubahan iklim yang menuntut daya tahan ekstra.
Menjawab tantangan tersebut sekaligus memperingati Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang jatuh setiap 15 Oktober, Amartha Financial terus memperkuat dukungannya dalam menyediakan pembiayaan produktif dan pendampingan usaha bagi UMKM perempuan di akar rumput.
Founder dan CEO Amartha Financial, Andi Taufan, menyampaikan, “Melihat potensi yang ada, Amartha konsisten memperkuat ekosistem UMKM melalui akses permodalan, pendampingan, serta memberikan kesempatan untuk memperluas akses pasar bagi para perempuan di perdesaan. Dukungan permodalan dan pendampingan yang kami lakukan berhasil mendukung hampir 99.000 mitra di perdesaan untuk membuka lapangan kerja baru, di mana 97 persen dari total lapangan kerja baru tersebut diisi oleh perempuan.”

Kisah Inspiratif dari Sukoharjo hingga Pesisir Bau-Bau
Kiprah dan ketangguhan perempuan perdesaan dalam menopang perekonomian keluarga tecermin dari kisah Ibu Sumarni di Kabupaten Sukoharjo. Sebagai petani palawija sekaligus tulang punggung keluarga, ia sempat terkendala modal saat mengoperasikan lahannya. Titik balik hadir saat ia menjadi mitra Amartha lima tahun lalu. Berkat dukungan akses modal, ia bisa dengan leluasa mengembangkan pertanian palawija yang hasilnya rutin dibeli oleh tetangga dan masyarakat sekitar. Hasil jerih payahnya tak hanya mencukupi kebutuhan harian, tetapi juga membiayai pendidikan anak-anaknya.
“Berkat modal dari Amartha, saya bisa lebih leluasa mengembangkan usaha palawija ini… Saya bisa mendapat penghasilan hingga Rp500.000 setiap dua hari, terutama saat harga sedang bagus,” ungkap Ibu Sumarni.
Tak hanya di sektor pertanian tanah darat, cerita inspiratif juga datang dari wilayah pesisir Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Ibu Mariani, seorang pembudidaya rumput laut, mengawali usahanya dari beberapa helai rumput laut yang dijemur di pelataran rumahnya. Kendati pendapatannya sering terpengaruh oleh cuaca dan kondisi pasang surut laut, bergabung dengan Amartha memberinya akses pembiayaan untuk memperluas area budidaya.
Kini, usaha rumput lautnya berkembang pesat dan sanggup merangkul para tetangganya, sebagian besar ibu rumah tangga, untuk bekerja membantu proses panen dan pengeringan, sehingga menciptakan lapangan kerja baru di desanya.
“Usaha rumput laut ini membantu saya menyekolahkan anak-anak, bekal masa depan mereka. Pembiayaan dan pendampingan dari Amartha membuat produksi usaha saya bisa terus berkembang dan pendapatan meningkat,” kata Ibu Mariani.
Membangun Ekosistem Berkelanjutan dan Tanggap Bencana
Selain pembiayaan modal kerja, Amartha juga memperluas aksi sosialnya melalui Amartha Empower. Salah satu bentuk kepedulian terbarunya adalah program pemulihan pascabencana banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Program ini membantu memulihkan saluran irigasi yang mengairi lahan pertanian bagi hampir 3.000 jiwa serta memberikan bantuan hewan ternak.
Melalui kombinasi pembiayaan produktif, pendampingan, dan kepedulian sosial, Amartha membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sebatas bantuan finansial semata, melainkan fondasi untuk membangun kemandirian dan ekonomi inklusif dari akar rumput.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of Amartha
