Empat Musim Pertiwi: Ketika Sinema Membuat Kita Ikut Merasakan Luka

Ada film yang cukup ditonton, dan ada yang membuat kita ikut merasakan luka, kemarahan, juga keberanian para tokohnya. Empat Musim Pertiwi termasuk yang kedua - read more

Ada film yang selesai ketika layar menjadi gelap. Ada pula film yang meninggalkan sesuatu untuk dipikirkan, bahkan setelah lampu bioskop menyala kembali. Empat Musim Pertiwi, karya terbaru sutradara Kamila Andini, termasuk film yang memberikan pengalaman menonton semacam itu.

Selama 2 jam 17 menit, film ini menyerap perhatian tanpa menyisakan banyak ruang untuk memikirkan hal lain. Bukan semata karena ceritanya, melainkan karena kekuatan visual, atmosfer, dan cara emosi dibangun secara perlahan. Ada kesedihan, kemarahan, keputusasaan, juga secercah harapan yang hadir tanpa harus diterjemahkan melalui penjelasan panjang atau visualisasi yang berlebihan.

Hasilnya adalah pengalaman sinematik yang terasa penuh, tetapi tidak selalu mudah diuraikan. Seolah-olah ada begitu banyak hal yang ingin disampaikan, sementara sebagian maknanya sengaja dibiarkan tinggal dalam perasaan penonton.

Pertiwi dan Bisma (Arya Saloka) mantan kekasih yang menikah dengan sahabatnya
Luka yang Tidak Selalu Membutuhkan Kata-kata

Pertiwi, diperankan oleh Putri Marino, kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun menjalani hukuman penjara karena membunuh salah satu pelaku yang mencoba memperkosanya. Kepulangannya tidak serta-merta menjadi awal kehidupan baru. Ia justru harus kembali berhadapan dengan trauma masa lalu, penolakan, dan masyarakat yang tampaknya lebih mudah menghakimi korban daripada mempertanyakan mereka yang menyakitinya.

Putri Marino menghadirkan Pertiwi sebagai karakter yang kuat justru karena ia tidak banyak berbicara. Tatapan, gerak tubuh, dan caranya berada di tengah orang-orang di sekitarnya menyampaikan beban yang tidak mudah diungkapkan melalui kata-kata.

Kilasan masa lalu yang memperlihatkan kekerasan dan pelecehan yang dialaminya memperdalam pengalaman tersebut. Penderitaan Pertiwi tidak sekadar menjadi informasi dalam cerita, tetapi terasa sebagai sesuatu yang terus membayangi kehidupannya.

See also  Kartini Perfilman Indonesia: Dari Layar Perak hingga Kursi Sutradara

Penampilan Putri membuat keheningan menjadi bagian penting dari bahasa film. Ada kemarahan yang tertahan, kelelahan, dan luka yang belum selesai. Tanpa harus terus-menerus menjelaskan perasaan tokohnya, film ini mengajak penonton ikut merasakan betapa beratnya menjalani hidup ketika dunia tidak memberikan ruang yang cukup untuk pulih.

Ketika Ketidakadilan Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Namun, Empat Musim Pertiwi tidak berhenti pada trauma seorang perempuan. Melalui kepulangan Pertiwi, Kamila Andini memperlihatkan lingkungan yang dikuasai oleh ketimpangan kekuasaan, korupsi, stigma, dan pengucilan.

Di desa itu, mereka yang memiliki kuasa dapat mempertahankan kedudukannya, sementara perempuan dan orang-orang yang dianggap berbeda harus menanggung akibat dari keputusan serta tindakan pihak lain. Keputusasaan muncul bukan karena mereka tidak menyadari ketidakadilan, melainkan karena jalan untuk melawannya terasa begitu sempit.

Pertiwi memilih untuk tidak diam. Ia melawan, meskipun perlawanan tersebut justru membuatnya semakin ditindas. Keberaniannya tidak mendatangkan kemenangan secara instan, apalagi mengubah sistem yang telah lama mengakar.

Namun, ada sesuatu yang perlahan bergerak. Keberanian Pertiwi menular kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka yang sebelumnya hidup dalam ketakutan mulai menemukan cara untuk melawan, meskipun tindakan mereka tidak selalu lazim atau mudah dipahami.

Di sinilah film ini menemukan salah satu lapisan maknanya. Perlawanan tidak selalu dimulai dengan kemenangan besar. Terkadang, ia bermula ketika seseorang menunjukkan bahwa keadaan yang selama ini dianggap tidak mungkin diubah ternyata masih dapat ditantang.

Pertiwi mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh ketidakadilan yang mengelilinginya. Namun, keberaniannya membuka kemungkinan bagi orang lain untuk berhenti menerima keadaan begitu saja.

Kedua orang tua Pertiwi, yang tidak terlalu antusias menyambut kepulangannya
Bromo dan Bahasa Sinema Kamila Andini

Kekuatan film ini juga terletak pada cara Kamila menggunakan visual dan atmosfer untuk membangun dunia ceritanya. Lanskap Bromo bukan sekadar latar yang memperindah gambar. Hamparan alam yang luas, suasana yang sunyi, dan lingkungan yang terasa dingin menjadi bagian dari pengalaman yang membayangi perjalanan Pertiwi.

See also  Kolaborasi dengan Maudy Ayunda, Frank & co. Rilis Koleksi “See the Light”

Keindahan tidak selalu menghadirkan ketenangan. Ada kegelisahan yang tetap terasa di balik lanskap tersebut, seolah dunia yang tampak luas justru menyimpan ruang gerak yang sempit bagi mereka yang terperangkap di dalamnya.

Unsur budaya dan tradisi masyarakat setempat, termasuk penggunaan bahasa Jawa dalam sejumlah percakapan, turut memberikan identitas pada film. Semua elemen itu hadir tanpa membuat cerita kehilangan fokus pada pengalaman manusia yang berada di pusatnya.

Pendekatan visual dan atmosfer semacam ini mengingatkan pada pengalaman sinematik yang juga dapat ditemukan dalam Samsara, karya Garin Nugroho. Perbandingan tersebut terasa menarik mengingat Kamila merupakan putri Garin. Namun, yang tampak dalam Empat Musim Pertiwi bukan sekadar pengulangan pendekatan sang ayah, melainkan bagaimana kepekaan terhadap bahasa visual dapat berkembang menjadi ekspresi yang memiliki karakter sendiri.

Kamila mengolah lanskap, keheningan, ekspresi tubuh, dan metafora untuk membawa penonton memasuki dunia Pertiwi. Gambar tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita, tetapi menjadi bagian dari cara emosi dan gagasan disampaikan.

Pertiwi bersama Ibu dari gadis tuli bisu yang shock saat mengetahui putrinya diperkosa berkali-kali
Sebuah Penutup yang Membiarkan Pertanyaan Tetap Terbuka

Salah satu pilihan paling mengejutkan dalam Empat Musim Pertiwi hadir menjelang akhir cerita, ketika sebuah piring terbang muncul dan cahayanya menarik Pertiwi hingga nyaris masuk ke dalamnya.

Kemunculan UFO terasa mendadak setelah penonton mengikuti pergulatan yang begitu dekat dengan realitas sosial: kekerasan, korupsi, ketidakadilan, dan perjuangan mereka yang tidak memiliki kuasa. Meski demikian, unsur piring terbang sebenarnya telah diperkenalkan sebelumnya melalui cerita Mak Ira, yang juga menjadi asal-usul nama warung makannya.

Lalu, apa makna kehadiran UFO di akhir film?

Salah satu kemungkinan pembacaan adalah melihatnya sebagai metafora tentang sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia biasa. Ketika sistem begitu kuat dan keadilan terasa sulit dicapai, mungkinkah kehadiran kekuatan dari luar dunia yang dikenal menjadi gambaran tentang jalan keluar yang tidak pernah tersedia sebelumnya?

See also  Kolaborasi dengan Maudy Ayunda, Frank & co. Rilis Koleksi “See the Light”

Atau, mungkinkah peristiwa tersebut merupakan bagian dari pengalaman subjektif Pertiwi, sesuatu yang berada di antara kenyataan dan imajinasi?

Film ini tidak memberikan jawaban yang sepenuhnya tegas. Pilihan tersebut mungkin terasa terlalu mendadak bagi sebagian penonton, tetapi juga membuka ruang interpretasi yang tidak akan muncul jika semua persoalan ditutup dengan penyelesaian yang lugas.

Barangkali, penutup itu memang bukan dimaksudkan untuk menyelesaikan seluruh persoalan Pertiwi secara harfiah. Ia justru meninggalkan pertanyaan tentang batas perlawanan manusia dan kemungkinan pembebasan ketika dunia yang dihadapi terasa begitu sulit ditembus.

Pada akhirnya, Empat Musim Pertiwi tidak harus dipahami melalui satu tafsir yang pasti. Kekuatan film ini terletak pada kemampuannya mengajak penonton merasakan luka, menyaksikan ketidakadilan, dan melihat bagaimana keberanian seseorang dapat membuka ruang bagi perlawanan orang lain.

Dan ketika layar menjadi gelap, tidak semua pertanyaan harus segera menemukan jawabannya. Ada film yang memang perlu dibiarkan mengendap, bukan karena ia gagal menyampaikan sesuatu, melainkan karena pengalaman yang ditinggalkannya lebih luas daripada kesimpulan yang bisa dirumuskan dalam beberapa kalimat.

By: Kazuri Team

Photo: Courtesy of @kamilandini @fadhalsidqi