
Christine Hakim hingga Sheila Dara, hadirkan perubahan nyata dalam dunia sinema Indonesia - read more
Memasuki bulan April, kita selalu teringat akan satu nama. Satu nama yang telah membawa perempuan Indonesia ada di titik sekarang ini, dialah Raden Ajeng Kartini. Hidup di era 18-an hingga awal 19an, pemikiran RA Kartini begitu maju, jauh melampaui zamannya. Perjuangannya telah membuat kita, perempuan Indonesia memiliki hak suara, hak mendapatkan pendidikan, juga dapat menuntuk ilmu setinggi mungkin sejauh kita mampu. Kita bersyukur, karena tidak semua negara di dunia ini memberikan kesempatan yang sama kepada perempuan.
Perjuangan RA Kartini juga telah berhasil melahirkan kartini-kartini berikutnya yang telah berkarya di berbagai bidang. Salah satunya layar lebar atau film. Di setiap era perfilman Indonesia, selalu hadir perempuan-perempuan yang tidak hanya bersinar di layar, tetapi juga mengubah arah industri. Mereka adalah “Kartini” dalam dunia film—tokoh-tokoh yang memperjuangkan ruang, suara, dan perspektif perempuan melalui karya. Dari akting legendaris hingga produksi dan penyutradaraan, kontribusi para “Kartini” membentuk wajah perfilman Indonesia hari ini.
Christine Hakim: Pilar yang Tak Tergantikan

Perjalanan dimulai dari sosok yang nyaris tak terbantahkan: Christine Hakim. Kariernya berawal secara tak terduga pada 1973 lewat film Cinta Pertama arahan Teguh Karya. Awalnya hanya seorang model, ia “ditarik perlahan” ke dunia film—dan hampir saja meninggalkannya. Namun kemenangan Piala Citra pertamanya (FFI 1974) justru menjadi titik balik yang mengukuhkan langkahnya.
Selama lebih dari lima dekade, Christine Hakim menjelma menjadi ikon. Ia mengoleksi lebih dari 10 Piala Citra, termasuk kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik melalui film-film penting seperti:
- Cinta Pertama (1973)
- Pengemis dan Tukang Becak (1979)
- Tjoet Nja’ Dhien (1988)
- Daun di Atas Bantal (1998)
Tak hanya itu, ia juga terus relevan di era modern melalui kemenangan sebagai pemeran pendukung dalam film seperti Kartini (2017) dan Perempuan Tanah Jahanam (2020). Penghargaan Pengabdian Seumur Hidup (FFI 2016) menjadi penanda bahwa dedikasinya melampaui generasi.
Christine Hakim bukan sekadar aktris—ia adalah fondasi.
Dian Sastro: Ikon Generasi Baru yang Berkelas

Nama Dian Sastrowardoyo membawa kita ke era kebangkitan film Indonesia awal 2000-an. Lewat Ada Apa dengan Cinta? (2002), ia tidak hanya menjadi bintang, tetapi juga simbol generasi. Dian pula yang memerankan sosok Kartini dengan begitu apik di film Kartini (2017).
Prestasinya meluas hingga internasional:
- Best Actress – Singapore International Film Festival (2002) (Pasir Berbisik)
- Piala Citra FFI 2004 (Ada Apa dengan Cinta?)
- Most Promising Newcomer – Asia-Pacific Film Festival (2005)
Dian juga melampaui batas sebagai kreator—menyutradarai film pendek (Dini Hari, Kotak) dan memproduksi karya seperti Drupadi. Awal tahun ini Dian juga memproduksi film layar lebar, Esok Tanpa Ibu. Sosoknya merepresentasikan “Kartini”, perempuan modern: cerdas, kreatif, dan berdaya di perfilman Indonesia.
Generasi Kini: Berani, Fleksibel, dan Multitalenta

Nama-nama seperti Sheila Dara Aisha dan Prilly Latuconsina menandai babak baru perfilman Indonesia.
- Sheila Dara Aisha mencuri perhatian dengan akting totalnya, hingga meraih:
- Pemeran Utama Perempuan Terbaik FFI 2025 (Sore: Istri dari Masa Depan)
- Pemeran Pendukung Terbaik FFI 2024 (Jatuh Cinta Seperti di Film-Film)
- Prilly Latuconsina menunjukkan bahwa aktris masa kini tak hanya bermain peran, tetapi juga membangun industri:
- Piala Citra FFI 2023 (Budi Pekerti)
- Menyapu 4 penghargaan IMA Awards 2023
- Produser film dan masuk Forbes 30 Under 30 Asia
Generasi ini tidak lagi menunggu peluang—mereka menciptakannya.
Di Balik Layar: Kartini yang Membangun Industri
Tak kalah penting adalah perempuan di balik layar—mereka yang membentuk cerita, estetika, dan arah industri.
Mira Lesmana: Arsitek Kebangkitan Film Indonesia

Melalui Miles Films, Mira Lesmana menjadi motor kebangkitan perfilman nasional di era 2000-an. Film seperti Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta?, dan Laskar Pelangi bukan hanya sukses komersial, tetapi juga menghidupkan kembali kepercayaan publik pada film Indonesia.
Kamila Andini: Suara Perempuan yang Mendunia

Lewat Yuni dan Before, Now & Then, Kamila Andini menghadirkan narasi perempuan yang kuat dan puitis, diakui di festival internasional seperti Toronto dan Berlin.
Upi Avianto: Narasi Pemberontakan Perempuan
Film seperti Radit dan Jani dan My Stupid Boss menunjukkan kemampuan Upi meramu cerita populer dengan karakter perempuan yang berani dan kompleks.
Gina S. Noer & Mouly Surya: Penutur Cerita yang Berani

- Gina S. Noer mengangkat isu keluarga dan remaja dengan pendekatan emosional (Dua Garis Biru, Keluarga Cemara).
- Mouly Surya menghadirkan perempuan sebagai anti-hero kuat dalam lanskap sinema global (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak).
- Dari Kartini ke Kartini: Sebuah Estafet Perjuangan
Jika Kartini dahulu memperjuangkan pendidikan dan suara perempuan, maka para sineas ini melanjutkannya melalui medium film. Mereka membuka jalan—dari akting, produksi, hingga penyutradaraan—agar perempuan tidak hanya menjadi objek cerita, tetapi juga subjek yang menentukan narasi.
Perjalanan dari Christine Hakim hingga generasi Sheila Dara dan Prilly Latuconsina, serta dari Mira Lesmana hingga Kamila Andini, menunjukkan satu benang merah: perempuan Indonesia tidak lagi sekadar hadir dalam film—mereka adalah penggeraknya. Mereka adalah “Kartini Modern” di perfilman Indonesia.
Dan seperti Kartini, perjuangan ini belum selesai.
By: Kazuri Team
Photo: From Instagram @christinehakimofficial, @therealdisastr, @sheiladaisha, @prillylatuconsina96, @mirles, @therealdisastr, @upirocks, @moulysurya, @ginasnoer
