
Melalui Terlihat / Terasa, Rajata Hakim mengajak mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya kita ketahui tentang seseorang dari yang terlihat - read more
Ada sesuatu yang hampir otomatis dilakukan manusia ketika berhadapan dengan wajah orang lain. Kita membaca ekspresi, memperhatikan tatapan, menangkap kesan pertama, lalu tanpa sadar membentuk cerita tentang siapa orang tersebut. Padahal, apa yang terlihat di permukaan belum tentu cukup untuk memahami seseorang.
Jarak antara melihat dan mengenal inilah yang menjadi salah satu titik berangkat Rajata Hakim dalam pameran tunggal perdananya, Terlihat / Terasa. Seniman multidisipliner berusia 22 tahun tersebut mengajak pengunjung melihat kembali hubungan antara apa yang tampak di hadapan mata, apa yang dirasakan, dan apa yang sebenarnya kita pahami tentang orang lain. Pameran ini berlangsung di ArtSphere Gallery, Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, hingga 27 September 2026.
150 Wajah dan Batas antara Melihat dengan Mengenal
Salah satu bagian utama Terlihat / Terasa adalah rangkaian 150 potret orang asing yang dibuat Rajata menggunakan cat akrilik di atas kertas kalkir berukuran A4. Sebanyak 63 potret di antaranya kini ditampilkan di ArtSphere, berdampingan dengan karya lain di atas kanvas, kayu, tas, medium transparan, hingga instalasi.
Namun, deretan wajah tersebut bukan sekadar latihan mengamati manusia.
Bagi Rajata, semakin lama sebuah wajah diperhatikan, semakin terlihat pula batas kemampuan manusia untuk mengubah pengamatan menjadi pemahaman. Karena itu, ia tidak mencoba membuat potret yang sepenuhnya menjelaskan siapa seseorang. Ketidakpastian justru dibiarkan menjadi bagian dari karya.
“Saya tertarik pada titik ketika memandang mulai terasa seperti mengetahui, padahal kita kerap keliru menganggap keduanya sama,” ujar Rajata.
Pernyataan tersebut seperti menjadi kunci untuk membaca karya-karyanya. Wajah-wajah yang hadir di hadapan pengunjung memang dapat diamati, tetapi tidak serta-merta memberikan jawaban mengenai siapa orang di baliknya.

Saat Wajah Bertemu dengan Suara
Menariknya, Rajata kemudian memperluas pengalaman melihat melalui suara.
Sejumlah potret dipasangkan dengan rekaman suara pribadi dari para partisipan yang mendeskripsikan diri mereka secara anonim. Pengunjung pun tidak hanya berhadapan dengan interpretasi visual seorang seniman, tetapi juga mendengar bagaimana orang yang menjadi subjek melihat dan mendefinisikan dirinya sendiri.
Di titik ini, Terlihat / Terasa menjadi semakin personal.
Ada kemungkinan bahwa wajah yang kita lihat telah membentuk kesan tertentu dalam benak. Namun, suara yang kemudian terdengar dapat membuka sisi lain yang sebelumnya tidak kita bayangkan. Perbedaan itu menciptakan pertanyaan yang sederhana, tetapi cukup mengusik: saat melihat orang lain, apakah kita benar-benar sedang melihat mereka, atau sebenarnya sedang melihat interpretasi kita sendiri?
Bahkan Sejarah Memiliki Wajah yang Bisa Dipertanyakan
Gagasan mengenai identitas tersebut tidak berhenti pada potret orang-orang yang ditemui Rajata.
Dalam salah satu karyanya, ia menghadirkan sosok Pangeran Diponegoro, tetapi memilih untuk menyamarkan wajah figur sejarah tersebut. Yang terlihat adalah sosok yang sedang menunggang kuda putih, sementara identitasnya sengaja dibiarkan menjadi sebuah enigma.
Keputusan tersebut kembali membawa pengunjung pada persoalan tentang bagaimana kita mengenali seseorang.
“Saya sengaja menyamarkan wajah Diponegoro karena saya ingin melihat apa yang terjadi ketika sebuah identitas yang biasanya kita anggap sudah pasti justru dibuat tidak sepenuhnya terlihat,” kata Rajata.
Jika wajah orang asing membuat kita menebak-nebak siapa mereka, wajah figur sejarah mengingatkan bahwa apa yang kita kenal tentang seseorang pun kerap datang melalui arsip, representasi, dan ingatan yang diwariskan.

Antara Bentuk dan Rasa
Ketertarikan Rajata terhadap arsip dan memori juga bersinggungan dengan keterlibatannya dalam Project 1830. Dari pengalaman tersebut, ia menemukan cara untuk memahami praktik berkaryanya melalui konsep amongraga dan amongrasa.
Amongraga berkaitan dengan disiplin yang diperlukan untuk memberikan bentuk lahiriah pada sebuah gagasan, sementara amongrasa merupakan penghayatan batin yang memberikan makna pada bentuk tersebut. Dalam praktik Rajata, keduanya berjalan beriringan: tangan memberikan bentuk, sementara rasa menentukan apakah bentuk tersebut masih setia pada pengalaman yang melahirkannya.
Hal itu pula yang membuat ketidaksempurnaan menjadi bagian penting dalam karya-karyanya. Tepian yang dibiarkan terbuka dan guratan yang masih menyimpan ketidakpastian bukan sekadar keputusan visual. Bagi Rajata, semuanya merupakan jejak dari proses penciptaan yang masih menyimpan kerentanan sebelum sebuah bentuk mencapai kepastian.
“Saya berkarya untuk tinggal bersamanya cukup lama hingga kompleksitasnya dapat dikenali, sekaligus menyisakan ruang bagi orang lain untuk menemukan sesuatu dari dirinya sendiri di dalam karya tersebut,” ungkapnya.
Disiplin Atlet, Intuisi Seniman
Cara Rajata bekerja juga dibentuk oleh perjalanan yang berada di luar ruang seni.
Setelah menempuh pendidikan di Tanglin Trust School di Singapura, ia mempelajari seni rupa selama satu tahun di University of British Columbia, Kanada, dan meraih predikat Dean’s List. Kini, ia melanjutkan pendidikannya di BINUS University. Di sisi lain, Rajata pernah mewakili Indonesia dalam cabang olahraga bola basket dan beberapa kali meraih penghargaan MVP.
Persinggungan antara dunia olahraga dan seni kemudian menemukan bentuknya dalam proses kreatifnya: terstruktur, disiplin, tetapi tetap terbuka terhadap kemungkinan yang muncul ketika material dan pengalaman mulai menemukan bentuknya.
Pada akhirnya, mungkin itulah yang membuat Terlihat / Terasa terasa lebih dari sekadar kumpulan potret.
Melalui 63 wajah yang kini memenuhi ruang ArtSphere, Rajata mengajak kita berhenti sejenak dari kebiasaan menganggap apa yang terlihat sebagai sebuah kebenaran. Ia mengingatkan bahwa sebuah wajah mungkin menjadi awal untuk melihat seseorang, tetapi belum tentu menjadi jalan untuk benar-benar mengenalnya.
Sebab dalam dunia Rajata Hakim, melihat bukanlah akhir dari proses mengenal. Justru di sanalah pertanyaannya dimulai.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of Rajata Hakim
