
Lebih seabad berlalu sejak kepergian RA Kartini, masih banyak perempuan yang belum mendapat pendidikan. Ya, perjuangan masih panjang… - read more
Beberapa hari lalu kita baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional setelah sebelumnya, pada 21 April, kita memperingati Hari Kartini. Dua hal yang saling berkaitan. Mengapa? Karena Raden Ajeng Kartini dengan usianya yang hanya seperempat abad, telah berjuang agar perempuan Indonesia bisa mendapatkan pendidikan.
Berbagai acara digelar sepanjang bulan April untuk mengenang jasa-jasa Kartini. Berkat kegigihan beliau, kini banyak perempuan Indonesia yang berhasil menduduki posisi tinggi di instansi pemerintah maupun swasta.
Persentase perempuan yang mendapatkan pendidikan pun terus meningkat. Menurut data BPS, tahun 2023, persentase perempuan yang berpendidikan SMA ke atas mencapai 37,60%, meningkat dari 36,95% pada 2022, dan 34,87% pada 2021. Masih lebih rendah dibandingkan laki-laki yaitu 42,62%, namun ketimpangannya terus mengecil setiap tahun.
Ibu adalah Pendidik Pertama
Pertanyaannya adalah, apakah angka tersebut mewakili seluruh daerah di Indonesia? Apakah pendidikan bagi perempuan sudah merata?
Nyatanya, belum cukup banyak perempuan yang tinggal di pedalaman yang mendapatkan akses pendidikan. Masih banyak tantangan yang dihadapi seperti infrastruktur, kualitas tenaga pengajar, kesadaran masyarakat, dan tentu saja budaya patriarki yang lebih mengutamakan laki-laki. Padahal, dengan mendapatkan pendidikan, perempuan di pedalaman dapat lebih berdaya, meningkatkan kualitas hidup, juga mengurangi kemiskinan.
“Kami di sini memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Demikian dikatakan Kartini dalam salah satu suratnya. Bahkan lebih dari 100 tahun lalu, pejuang emansipasi ini sudah sangat paham pentingnya pendidikan bagi perempuan, karena ia akan menjadi pendidik manusia untuk yang pertama. Ya, pendidikan pertama seorang anak, laki-laki maupun perempuan tentu didapat dari ibunya.
