Menyusuri Magelang Lewat Langkah Kaki dan Sepotong Getuk

PUMA hadirkan pengalaman berlari yang mempertemukan semangat olahraga dengan tradisi kuliner yang diwariskan lintas generasi - read more

Ada banyak cara untuk mengenal sebuah kota. Berjalan menyusuri jalan-jalan kecilnya, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, atau mencicipi kuliner yang menjadi bagian dari identitas masyarakatnya. Namun, bagaimana jika semua pengalaman itu dirangkum dalam sebuah perjalanan lari?

Melalui Rute Getuk, PUMA menghadirkan pengalaman yang sedikit berbeda bagi para pelari di Magelang. Mengusung semangat Run Your Culture, perjalanan ini tidak hanya mengajak peserta mengejar personal best (PB), tetapi juga menikmati suasana kota, berinteraksi dengan masyarakat setempat, dan mengenal salah satu kudapan yang begitu lekat dengan Magelang: getuk.

Kehadiran gerobak getuk berwarna-warni yang beralaskan daun pisang dan bertabur kelapa parut menjadi salah satu momen menarik dalam ajang lari JRF. Bahkan, gerobak tersebut mendapat julukan ‘Gerobak Getuk Kalcer’ karena penjualnya tampil dengan gaya khas pelari masa kini. Kehadirannya menjadi kejutan manis di tengah aktivitas olahraga, sekaligus mengundang rasa penasaran para pelari maupun pengunjung.

Namun, di balik pengalaman tersebut, tersimpan cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar menikmati seporsi getuk.

Menelusuri Jejak Tradisi Getuk Magelang

Bagi masyarakat Magelang, getuk bukan sekadar kudapan tradisional. Di balik teksturnya yang lembut dan warna-warni yang khas, terdapat sejarah serta perjalanan keluarga yang telah mempertahankan tradisi pembuatannya selama puluhan tahun.

Salah satunya adalah keluarga Getuk Sri Rahayu, yang telah membuat dan menjual getuk sejak era 1940-an. Sri Rahayu merupakan generasi ketiga sekaligus cucu dari Ali Mohtar, warga Dusun Karet yang dikenal sebagai pencipta getuk khas Magelang.

Tradisi tersebut terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap hari, keluarga ini menempuh perjalanan sejauh 4,6 kilometer dari Desa Karet menuju Pasar Rejowinangun untuk membawa getuk hasil buatan mereka kepada para pembeli.

See also  PUMA Tacklette “JD Sports”: Inspirasi Gaya Sporty dengan Sentuhan Balet Mary-Jane

Perjalanan yang kini mungkin terasa sederhana itu dahulu ditempuh menggunakan sepeda atau kuda, melewati medan dengan kontur dan elevasi yang tidak selalu mudah. Kisah inilah yang kemudian menjadi bagian dari pengalaman Rute Getuk, mengajak para pelari melihat Magelang bukan hanya dari jalan yang mereka lewati, tetapi juga melalui cerita orang-orang yang telah tumbuh bersama kota tersebut.

Lari, Menjelajah, dan Menemukan Cerita Baru

Bagi Michelle Lovelyn, yang mulai menekuni lari sejak 2017, pengalaman di Magelang membawanya kembali pada hal-hal sederhana yang membuatnya menyukai olahraga ini. Ada kepuasan ketika berhasil melampaui batas kemampuan diri, tetapi ada pula kesenangan tersendiri saat bisa menikmati perjalanan tanpa terus-menerus memikirkan performa.

Kisah keluarga Getuk Sri Rahayu menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas baginya. Michelle mengagumi ketekunan keluarga tersebut dalam mempertahankan tradisi selama puluhan tahun. Mengikuti jejak perjalanan mereka membuatnya melihat bahwa kecintaan terhadap sesuatu dapat terus tumbuh melalui cerita dan pengalaman yang ditemui sepanjang jalan.

Sementara itu, Irvin Iskandar menikmati sisi lain Magelang melalui suasana kota yang tenang, udara pagi yang sejuk, serta keramahan warga yang ditemuinya. Kontur jalan yang terdiri dari tanjakan dan turunan menghadirkan tantangan tersendiri, sekaligus membuat pengalaman berlari terasa lebih dinamis.

Pengalaman serupa dirasakan M. Doni Maulana, yang mulai berlari pada 2022 dan konsisten menekuninya sejak 2023. Baginya, lari merupakan olahraga yang sederhana dan mudah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, perjalanan di Magelang memberikan dimensi berbeda. Menyusuri kota sambil mengenal budaya dan kuliner lokal membuat aktivitas berlari terasa seperti sebuah perjalanan eksplorasi.

Run Your Culture: Merayakan Identitas Setiap Kota

Rute Getuk menjadi salah satu wujud semangat Run Your Culture yang diusung PUMA melalui DNA Deviate Pure, yang dekat dengan kultur dan komunitas lari.

See also  PUMA Tacklette “JD Sports”: Inspirasi Gaya Sporty dengan Sentuhan Balet Mary-Jane

Semangat ini sebelumnya hadir melalui rangkaian kegiatan bersama komunitas lari di empat kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. Masing-masing kota memiliki karakter, kultur, serta komunitas lari yang berbeda. Keragaman tersebut kemudian dirayakan dan dipertemukan dalam BORMAR 2026 melalui satu momen berlari bersama.

Melalui pendekatan ini, PUMA memperlihatkan bahwa budaya lari tidak selalu harus berbicara tentang kecepatan, jarak tempuh, atau pencapaian personal. Ada pengalaman lain yang bisa ditemukan ketika olahraga menjadi medium untuk mengenal lingkungan, masyarakat, dan tradisi setempat.

Di Magelang, pengalaman itu hadir melalui tanjakan, udara pagi, keramahan warga, serta seporsi getuk yang menyimpan cerita lintas generasi.

Sebab, terkadang perjalanan terbaik bukan hanya tentang seberapa cepat kita mencapai garis finis, melainkan juga tentang cerita yang ditemukan sepanjang jalan dan pengalaman manis yang dibawa pulang.

By: Kazuri Team

Photo: Courtesy of PUMA