Mickael Nana dan Beatrice, Ketika Songket Menjadi Titik Awal Sebuah Kolaborasi

Sebagai co-designer, Mickael & Beatrice memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas budaya lahir dari penghormatan terhadap tradisi - read more

Seorang desainer biasanya datang untuk memperkenalkan karyanya. Tetapi ketika Mickael Nana berbicara tentang koleksi yang ia kembangkan bersama Beatrice, yang paling sering ia ceritakan justru bukan dirinya. Ia lebih banyak bercerita tentang songket Lombok, para penenunnya, dan keinginannya untuk kembali belajar dari mereka.

Di PINTU Incubator JF3 2026, perjalanan kreatif itu memang tidak ditempuh sendirian. Sejak awal, Mickael dan Beatrice membangun koleksi ini sebagai co-designer yang bekerja setara. Mulai dari memilih kain, menyusun konsep, hingga merancang setiap siluet. Bagi Beatrice, kesetaraan tersebut menjadi fondasi utama kolaborasi mereka.

“Kita benar-benar co-designer. Jadi, setara untuk bikin collection ini bareng-bareng dari awal, dari kain. Dari kain dan juga desain,” tutur Beatrice.

Pernyataan itu terasa penting. Sebab koleksi ini memang tidak lahir dari sebuah sketsa yang kemudian mencari material pendukung. Sebaliknya, semuanya berawal dari songket Lombok. Kain tradisional itu menjadi titik temu yang mempertemukan perspektif Mickael sebagai desainer Prancis dengan pemahaman Beatrice terhadap kekayaan tekstil Indonesia.

Bersama-sama, keduanya mengembangkan koleksi yang memadukan warisan tenun Lombok dengan pendekatan desain kontemporer. Siluet modern dipertemukan dengan detail yang terinspirasi dari Garuda, sementara keindahan songket dibiarkan tetap berbicara melalui karakter, tekstur, dan nilai budaya yang melekat padanya. Alih-alih menjadikan kain tradisional sebagai aksen semata, Mickael dan Beatrice memilih membangun keseluruhan narasi koleksi dari sana.

Proses tersebut membawa mereka lebih dekat dengan para penenun di Lombok. Mereka tidak hanya mempelajari teknik pembuatannya, tetapi juga mendengarkan cerita, memahami filosofi, dan melihat bagaimana setiap helai songket menyimpan jejak pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk arah koleksi sekaligus mengubah cara Mickael memandang fashion.

“The big star of this collection is the Songket,” ujar Mickael.

Kalimat sederhana itu seolah merangkum seluruh perjalanan mereka. Di tengah industri yang sering menempatkan nama desainer sebagai pusat perhatian, Mickael justru memilih memberi panggung kepada kain, para penenun, dan budaya yang melahirkannya.

See also  Tokopedia & TikTok jadi Exclusive E-commerce Partner JFW 2026
Mickael dan Beatric

Rasa hormat itu pula yang membuatnya ingin kembali ke Indonesia. Bukan karena pekerjaannya belum selesai, melainkan karena ia merasa baru membuka sebagian kecil dari kekayaan tradisi tenun yang ingin terus dipelajarinya. Ia berharap suatu hari dapat kembali ke Lombok, menghabiskan lebih banyak waktu bersama para perajin, lalu membawa cerita tentang songket kepada komunitas fashion di Prancis.

Melalui kolaborasi yang dibangun setara, Mickael dan Beatrice menunjukkan bahwa fashion tidak selalu dimulai dari sebuah ide besar. Kadang, ia berawal dari kesediaan untuk mendengarkan, menghargai sebuah tradisi, dan membiarkan sehelai kain menjadi pusat cerita. Dari titik itulah lahir sebuah koleksi yang tidak hanya mempertemukan dua desainer dari dua negara, tetapi juga membawa warisan budaya Indonesia melangkah lebih jauh ke panggung dunia.

By: Kazuri Team

Photo: Courtesy of Jf3 2026