
Lisa dan Gabriela perkenalkan AU LARGE, koleksi yang membangun dialog antara dua budaya maritim - read more
Kolaborasi terbaik tidak selalu dimulai dari kesamaan. Kadang, ia justru lahir dari kerendahan hati untuk mendengar, belajar, dan memberi ruang bagi perspektif orang lain.
Di atas panggung PINTU Incubator, JF3 2026, desainer asal Prancis Lisa Rayar bersama desainer Indonesia Gabriela Marcella memperkenalkan AU LARGE, koleksi yang membangun dialog antara dua budaya maritim. Berarti “di lepas pantai” dalam bahasa Prancis, AU LARGE berangkat dari pertemuan antara tradisi pelaut Prancis dan kehidupan masyarakat pesisir Pantai Utara Jawa yang selama berabad-abad sama-sama menjadikan laut sebagai bagian dari identitas mereka.
Alih-alih menonjolkan perbedaan, koleksi ini justru mencari kesamaan yang telah lama dimiliki kedua budaya tersebut. Tradisi, ritual, keterampilan para perajin, hingga pengetahuan yang diwariskan lintas generasi diterjemahkan ke dalam narasi mode yang terasa kontemporer tanpa melepaskan akar budayanya.
Hadir dalam 12 tampilan, AU LARGE memadukan karakter pakaian kerja maritim Prancis dengan keahlian tekstil Indonesia. Siluet yang terstruktur bertemu draperi yang mengalir dan potongan oversized, sementara detail tali, konstruksi berlapis, serta permainan tekstur mengingatkan pada layar kapal dan jaring nelayan. Berbagai material seperti batik buatan tangan, denim, katun, kain teknis ringan, hingga tekstil transparan bernuansa biru berpadu membangun kesan yang ringan sekaligus fungsional.
Salah satu elemen yang paling menarik adalah hadirnya motif batik orisinal yang menggabungkan pola sarung Indonesia dengan garis-garis maritim khas Prancis melalui teknik sablon batik, menciptakan identitas tekstil baru yang lahir dari pertemuan dua tradisi. Seluruh koleksi juga dikembangkan bersama para perajin batik dengan pendekatan yang mengutamakan proses kerajinan tangan serta pemanfaatan material secara lebih bertanggung jawab.

Lahir Dari Dua Perspektif
Namun, di balik koleksi tersebut, yang paling menarik justru bukan hanya hasil akhirnya, melainkan cara koleksi itu dibangun. Selama mengikuti PINTU Incubator, Lisa memilih untuk tidak datang dengan gagasan yang sudah selesai. Ia lebih dulu mendengarkan, mengamati, dan memahami cara pandang Gabriela sebelum keduanya mulai merancang koleksi bersama.
“When you collaborate, you have to accept that you don’t have all the answers. You have to listen first, understand another perspective, and allow the collection to grow from both voices,” ujar Lisa Rayar.
Pendekatan tersebut membuat AU LARGE terasa sebagai karya yang benar-benar lahir dari dua perspektif. Identitas desain Lisa tetap hadir melalui pendekatan kontemporernya, sementara riset Gabriela mengenai budaya maritim Indonesia memberi kedalaman pada cerita yang ingin disampaikan. Tidak ada yang berusaha mendominasi. Yang muncul justru sebuah bahasa kreatif baru yang hanya dapat lahir melalui rasa saling percaya.
Kolaborasi Lisa dan Gabriela menjadi salah satu gambaran bagaimana PINTU Incubator mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis bukan sekadar untuk bertukar ide, tetapi juga untuk saling belajar. Melalui AU LARGE, keduanya menunjukkan bahwa kolaborasi lintas budaya tidak selalu menghasilkan perpaduan dua identitas. Kadang, yang lahir justru sebuah identitas baru—dibangun dari rasa ingin tahu, penghormatan terhadap tradisi, dan kerendahan hati untuk mendengar sebelum mulai berkarya.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of JF3 2026
