
Amartha Prosper memberikan pilihan alternatif investasi yang terhubung dengan pembiayaan bagi UMKM perempuan - read more
Saat ini,investasi sudah menjadi bagian dari perencanaan keuangan masyarakat. Kemudahan akses melalui teknologi membuat aktivitas investasi tidak lagi terbatas pada mereka bermodal besar atau berpengalaman di bidang keuangan. Akan tetapi, kita harus cermat dan berhati-hati dalam berinvestasi.
Lolita Setyawati CFP®, RIFA®, Certified Financial Planner, mengungkapkan minat masyarakat terhadap investasi mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya banyak investor fokus mencari produk investasi yang “cepat cuan”, kini semakin banyak yang mulai mempertimbangkan kesesuaian dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta transparansi pengelolaan investasi.
Di tengah semakin banyaknya pilihan instrumen, investor juga mulai memperhatikan bagaimana investasi ditempatkan. Sebagian investor mempertimbangkan investasi tidak hanya dari potensi imbal hasil, tetapi juga apakah investasi yang dikelola terhubung dengan sektor riil.
Menjawab kebutuhan tersebut, Amartha menghadirkan Amartha Prosper, salah satunya melalui Grassroots Growth Series (GGS). Pilihan alternatif yang memungkinkan masyarakat berinvestasi sekaligus terhubung dengan pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan. Melalui GGS, investasi disalurkan kepada Ibu Mitra Amartha di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia dengan sektor usaha beragam.
Julie Fauzie, Chief Funding Officer Amartha, mengatakan, “Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil, khususnya pembiayaan produktif UMKM perempuan di perdesaan. Investor bukan hanya memperoleh potensi imbal hasil, melainkan juga investasi yang disalurkan dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas dan inklusif.”

Kali ini, Amartha bersama Lolita Setyawati CFP®, RIFA®, membagikan tips berinvestasi dengan bijak dan terukur.
1. Pastikan keuangan dasar sudah aman
Sebelum mulai berinvestasi, pahami kondisi keuangan pribadi. Menurut Lolita, investasi sebaiknya dilakukan ketika kebutuhan dasar sudah tertata, termasuk memiliki cash flow yang sehat, cicilan terkendali, dan anggaran darurat tersedia.
“Anggaran darurat tetap perlu diprioritaskan. Idealnya anggaran tersebut mencapai enam kali pengeluaran bulanan. Namun, jika belum memungkinkan, setidaknya mulai dari dua hingga tiga kali pengeluaran bulanan,” jelas Lolita.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan anggaran darurat atau pinjaman untuk berinvestasi. Investasi sebaiknya menggunakan “uang dingin”, yaitu anggaran yang tidak digunakan untuk kebutuhan pokok.
2. Kenali tujuan dan profil risiko
“Ketika mau memulai berinvestasi, yang paling penting sebenarnya kenali diri sendiri dulu. Tujuan investasinya untuk apa, seberapa besar toleransi terhadap risiko, dan apa yang akan dilakukan jika hasilnya tidak sesuai harapan,” kata Lolita.
Menurutnya, jangan berinvestasi hanya karena melihat orang lain mendapat imbal hasil atau takut tertinggal tren. Rasa cemas dalam investasi adalah hal yang wajar. Namun, kecemasan itu dapat dikurangi ketika kita memahami cara kerja produk investasi, risiko, serta potensi imbal hasilnya.
3. Pilih produk yang legal dan logis
Di tengah semakin banyaknya pilihan produk investasi, masyarakat perlu lebih cermat memilih instrumen yang sesuai dengan kebutuhan dan profil risikonya. Lolita menekankan pentingnya memperhatikan legalitas produk, mekanisme pengelolaan investasi, potensi imbal hasil, serta kesesuaian dengan tujuan dan kondisi keuangan masing-masing.
“Prinsipnya sederhana, yaitu legal dan logis. Legal berarti produk tersebut memiliki izin dan berada di bawah pengawasan otoritas terkait. Sementara, logis maksudnya kita memahami bagaimana pos keuangan dikelola, ke mana dana disalurkan, serta dari mana potensi imbal hasilnya berasal,” jelas Lolita.
Dalam konteks ini, Grassroots Growth Series dari Amartha Prosper memiliki beberapa profil investasi yang dapat disesuaikan dengan karakteristik investor, meliputi Balanced-Flex, Balanced, Progressive, dan Dynamic. Setiap profil dirancang untuk mengakomodir kebutuhan investor yang berbeda, mulai dari yang mengutamakan fleksibilitas hingga yang mencari potensi imbal hasil lebih tinggi.

4. Mulai dari nominal kecil, tetapi konsisten
Banyak yang masih beranggapan bahwa investasi membutuhkan modal besar. Padahal, langkah terpenting dalam berinvestasi adalah memulai sedini mungkin dan melakukannya secara konsisten sesuai kemampuan finansial.
“Dulu orang berpikir harus punya uang banyak dulu baru bisa mulai investasi. Padahal sekarang aksesnya sudah jauh lebih mudah dan nominalnya juga semakin terjangkau. Jadi, tidak perlu menunggu punya modal besar. Semakin cepat seseorang mulai berinvestasi, semakin besar peluang imbal hasil tersebut berkembang dalam jangka panjang,” ujar Lolita.
5. Pertimbangkan nilai tambah dari penyaluran investasi
Seiring kemudahan dalam mengakses informasi keuangan, masyarakat mulai lebih cermat memahami ke mana dana investasi ditempatkan. Salah satunya melalui investasi yang menghubungkan modal publik dengan kebutuhan pembiayaan produktif UMKM di Indonesia.
“Bagi mereka yang kebutuhan keuangan dasarnya sudah terpenuhi, mulai muncul keinginan untuk memahami ke mana dana investasi ditempatkan dan dikelola, serta nilai tambah apa yang dapat dihasilkan. Investasi yang terhubung dengan pembiayaan produktif UMKM dapat menjadi pilihan selama investor tetap memahami legalitas, mekanisme, risiko, dan potensi imbal hasilnya,” kata Lolita.
Julie menambahkan, “Ketika modal disalurkan ke UMKM, dampaknya dapat meluas secara ekonomi. Melalui pembiayaan produktif, UMKM dapat memperoleh akses modal untuk mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, hingga membuka lapangan pekerjaan.”
Amartha Prosper Hadir Sebagai Alternatif Investasi di Ekonomi Riil
Selama lebih dari 16 tahun, Amartha telah menyalurkan modal usaha kepada lebih dari 4 juta UMKM perempuan di perdesaan, dengan total permodalan mencapai lebih dari Rp47 triliun.
Nilai ganda tersebut mendapat sambutan positif, tercermin dari tingginya minat terhadap Amartha Prosper sejak diluncurkan, pada Januari 2026. Selain menawarkan potensi pertumbuhan yang menarik, Amartha Prosper juga menjadi alternatif investasi di luar aset konvensional. Sehingga dapat membantu investor mendiversifikasi portofolio, sambil menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.
“Investasi pada pembiayaan produktif UMKM merupakan pilihan investasi jangka menengah hingga jangka panjang sejalan dengan kebutuhan pembiayaan UMKM dengan beragam siklus usaha. Dengan berinvestasi melalui Amartha Prosper, masyarakat tidak hanya merencanakan masa depan keuangan mereka, tetapi juga turut memperluas akses pembiayaan bagi sektor riil yang mendorong pertumbuhan ekonomi.” tutup Julie.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of Amartha
