Rumah Baru bagi Lagu-Lagu MALIQ & D’Essentials

Musikal Senja Teduh Pelita membuktikan; sebuah karya dapat terus hidup, berkembang, dan menemukan generasi baru - read more

Kapan sebuah lagu berhenti menjadi lagu? Barangkali jawabannya adalah: tidak pernah.

Lagu yang baik akan terus menemukan cara baru untuk hidup. Ia bisa menjadi soundtrack perjalanan seseorang, mengiringi adegan dalam film, bahkan menjelma menjadi sebuah pertunjukan yang menghadirkan pengalaman emosional yang sama sekali berbeda.

Perjalanan itulah yang kini dialami MALIQ & D’Essentials melalui Musikal Senja Teduh Pelita.

Selama lebih dari dua puluh tahun, karya-karya mereka dikenal sebagai soundtrack berbagai fase kehidupan. Namun kali ini, lagu-lagu tersebut tidak lagi hanya didengar. Lagu-lagu itu berjalan di atas panggung. Memiliki wajah, karakter, konflik, dan sebuah semesta baru yang dibangun dari imajinasi.

Bagi Angga Puradiredja, pengalaman itu menjadi momen ketika karya-karya MALIQ menemukan kehidupan keduanya.

“Hari ini, lewat Musikal Senja Teduh Pelita, lagu-lagu kami menemukan rumah baru. Mereka tidak lagi hanya hadir untuk didengar, tapi juga untuk dilihat, dirasakan, dan dihidupkan dalam sebuah dunia yang baru. Mungkin memang begitulah seharusnya karya hidup. Ia tidak berhenti di bentuk pertamanya,” ujarnya.

Kalimat “menemukan rumah baru” terasa lebih dari sekadar metafora. Ia menggambarkan bagaimana sebuah karya seni dapat terus berkembang ketika bertemu dengan medium yang berbeda.

Perasaan serupa juga dirasakan Indah (Rivani Indriya Suwendi). Menyaksikan lagu-lagu yang mereka ciptakan mampu memiliki usia yang lebih panjang menjadi pengalaman yang sangat emosional.

“Terharu bahwa apa yang kita kerjakan selama ini umurnya bisa lebih panjang, bisa dinikmati dalam bentuk lain. Salah satu tujuan kami memang agar karya-karya ini tidak berhenti sampai di situ saja,” tuturnya.

See also  Bukan Sekadar Konser, Java Jazz Festival 2026 Jadi Ruang Lebur Lintas Generasi

Sementara itu, Widi Puradireja justru melihat pengalaman tersebut sebagai pengingat bahwa pengaruh seorang seniman ternyata jauh melampaui karya yang ia hasilkan.

“Kita jadi berpikir ulang, bukan hanya lagu, tetapi sikap dan apa pun yang kita ucapkan harus positif dan punya dampak yang baik. Alhamdulillah, impact itu sangat menyebar dan bikin orang happy,” katanya.

Personel MALIQ & D’Essentials bersama para pemain Musikal Senja Teduh Pelita
Hadirkan Emosi Berbeda

Apa yang dirasakan para personel MALIQ kemudian menemukan pembenarannya dari sisi penonton.

Aktris Dian Sastrowardoyo mengaku sama sekali tidak menyangka lagu-lagu MALIQ dapat menghadirkan emosi yang begitu berbeda ketika diaransemen menjadi sebuah pertunjukan musikal.

“Aku sama sekali nggak nyangka, ternyata musik-musiknya MALIQ kalau diaransemen ulang dengan aransemen musikal kayak gini, efeknya ke perasaan kita jadi beda lagi,” ungkap Dian, yang juga memuji kualitas vokal para aktor cilik serta menyebut adegan kapal dengan koreografi ombak sebagai salah satu bagian paling brilian dalam pertunjukan.

Mungkin inilah pencapaian terbesar Musikal Senja Teduh Pelita. Bukan semata karena berhasil mengadaptasi hampir 20 lagu menjadi sebuah pertunjukan, melainkan karena berhasil membuktikan bahwa karya seni yang lahir dari kejujuran selalu memiliki kemungkinan untuk terus tumbuh.

Ketika sebuah lagu menemukan medium baru, ia tidak kehilangan identitasnya. Sebaliknya, ia memperoleh kehidupan baru, menjangkau penonton yang berbeda, dan meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada yang pernah dibayangkan penciptanya.

Dan di situlah sebuah karya berubah menjadi sebuah legacy.

By: Kazuri Team

Photo: Courtesy of Indonesia Kaya