
Di Hutan Ranjuri, Sulawesi Tengah, perjalanan Batik Valiri tidak dimulai dari canting, melainkan dari langkah kaki menyusuri pepohonan - read more
Di banyak tempat, proses membatik dimulai ketika canting menyentuh kain dan malam panas mulai membentuk garis demi garis motif. Namun di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kisah itu dimulai beberapa kilometer lebih awal—di jalur setapak yang membelah Hutan Ranjuri. Sebelum melihat selembar kain, pengunjung lebih dulu diajak mengenal dedaunan, kulit kayu, dan tanaman yang selama ini menyimpan warna-warna alami.
Perjalanan itulah yang membuat Batik Valiri terasa berbeda. Membatik di sini bukan sekadar mempelajari teknik, melainkan memahami dari mana setiap warna berasal. Hutan tidak lagi menjadi latar belakang sebuah destinasi wisata, tetapi halaman pertama dari setiap lembar batik yang akan lahir.
Di tengah tren experiential travel, ketika wisatawan semakin mencari pengalaman yang otentik dibanding sekadar destinasi, pendekatan seperti inilah yang membuat Sigi menawarkan sesuatu yang berbeda. Alih-alih datang hanya untuk membeli suvenir, pengunjung diajak mengikuti perjalanan sebuah karya sejak masih berupa pohon, daun, dan cerita yang hidup di tengah masyarakat.

Hutan Ranjuri, Tempat Warna-Warna Itu Berasal
Hutan Ranjuri menjadi ruang belajar pertama. Di bawah naungan pepohonan, wisatawan dikenalkan pada berbagai tanaman yang selama ini dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pewarna alami. Setiap jenis tanaman memiliki karakter dan warna yang berbeda, sekaligus menyimpan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Apa yang selama ini tampak sebagai bagian dari lanskap hutan, perlahan berubah menjadi kamus warna yang hidup.
Barulah setelah perjalanan itu berakhir, para pengunjung memasuki ruang membatik.
Canting, kain, dan malam kini memiliki makna yang berbeda. Karena mereka telah mengetahui bahwa warna yang akan menghiasi setiap motif bukan sekadar hasil campuran bahan, melainkan bagian dari ekosistem yang mereka lihat sendiri beberapa saat sebelumnya. Membatik kemudian berubah menjadi proses yang lebih personal. Setiap goresan terasa memiliki hubungan dengan perjalanan yang baru saja dilalui.
Di sinilah Batik Valiri menemukan identitasnya. Motif-motif yang dikerjakan para perajin tidak berdiri sendiri sebagai karya visual, melainkan menjadi cara untuk merekam hubungan antara manusia, alam, dan budaya yang telah tumbuh bersama selama bertahun-tahun. Hutan tidak hanya menyediakan bahan baku, tetapi juga mengajarkan kesabaran, keseimbangan, dan penghormatan terhadap alam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sigi.
Gagasan itu lahir dari kegelisahan Anto, pendiri Batik Valiri. Setelah bertahun-tahun bekerja di industri batik di Kota Palu, ia merasa kekayaan alam dan budaya Sigi belum banyak diterjemahkan ke dalam selembar kain.
“Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari Hutan Ranjuri saja, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat produksi, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat, termasuk pewarna alami yang bisa dikembangkan dari tanaman di dalam hutan purba tersebut,” ujar Anto.

Ketika Wisata Menjadi Cara Memahami Alam dan Budaya
Melalui pengalaman ini, wisata juga memperoleh makna yang lebih luas. Tidak lagi sekadar menawarkan tempat untuk dikunjungi, tetapi ruang untuk memahami sebuah daerah melalui tradisi yang masih hidup. Pengunjung pulang bukan hanya dengan membawa hasil karya mereka sendiri, tetapi juga cerita tentang bagaimana sebuah warna lahir, bagaimana sebuah motif memiliki akar budaya, dan bagaimana sebuah hutan dapat menjadi ruang kreatif bagi masyarakat yang menjaganya.
Menggunakan pewarna alami juga berarti menerima bahwa alam memiliki ritmenya sendiri. Prosesnya jauh lebih panjang dibanding pewarna sintetis, tetapi justru di sanalah letak nilainya.
“Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Itu yang membuat nilainya berbeda,” jelas Anto.

Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian alam dan budaya tidak harus berjalan di jalur yang berbeda. Ketika masyarakat adat, perajin batik, dan pengelola wisata bekerja bersama, lahirlah sebuah pengalaman yang tidak hanya memperkenalkan Sigi sebagai destinasi, tetapi juga menghidupkan kembali pengetahuan lokal dalam bentuk yang relevan bagi wisatawan masa kini.
Pendekatan tersebut diperkuat melalui pendampingan Gampiri Interaksi yang mendorong Batik Valiri beralih ke pewarna alami sekaligus memperkuat praktik usaha berkelanjutan.
“Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem,” ujar Nedya Sinintha Maulaning, Perwakilan Gampiri Interaksi.
Barangkali itulah yang membuat Batik Valiri meninggalkan kesan yang berbeda. Yang dibawa pulang wisatawan memang selembar kain batik. Namun yang sesungguhnya mereka simpan jauh lebih berharga: cara baru memandang sebuah hutan. Bahwa sebelum menjadi motif di atas kain, setiap warna pernah tumbuh sebagai daun, setiap cerita pernah hidup di tengah masyarakat, dan setiap karya yang baik selalu berawal dari hubungan yang dijaga dengan alam.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of LTKL
