
Lagu-lagu romantis MALIQ & D'Essentials menjelma menjadi sebuah petualangan science fiction - read more
Lampu panggung perlahan meredup. Denting nada pertama mulai memenuhi ruangan. Sebagian penonton mungkin datang dengan satu bayangan yang sama: menikmati lagu-lagu romantis khas MALIQ & D’Essentials yang selama ini menjadi soundtrack kisah cinta banyak orang.
Namun hanya dalam hitungan menit, bayangan itu runtuh.
Di hadapan mereka terbentang sebuah bumi yang nyaris kehilangan harapan. Peradaban runtuh. Orang-orang dewasa menghilang tanpa jejak. Hanya tersisa sembilan anak yang harus belajar bertahan hidup, mencari keluarga mereka, sekaligus menentukan masa depan dunia yang mereka warisi.
Sulit dipercaya, dunia seluas itu lahir dari lagu-lagu yang selama ini identik dengan kehangatan, cinta, dan senja.
Transformasi yang nyaris mustahil itulah yang menjadi kekuatan terbesar Musikal Senja Teduh Pelita. Di tangan Nuya Susantono, Produser sekaligus Sutradara pertunjukan ini, karya-karya MALIQ & D’Essentials tidak sekadar diaransemen ulang untuk kebutuhan panggung. Ia dibaca kembali, dimaknai ulang, lalu dirangkai menjadi sebuah semesta baru yang utuh—sebuah kisah science fiction tentang harapan, keluarga, dan masa depan bumi yang terasa begitu relevan dengan dunia hari ini.
Musikal kolaborasi Indonesia Kaya, Jakarta Movin, dan MALIQ & D’Essentials ini membawa penonton menuju masa depan ketika bumi porak-poranda akibat perubahan iklim, eksploitasi sumber daya, pandemi, dan peperangan.
“Kisah yang terjadi di Musikal Senja Teduh Pelita adalah sebuah universe yang lahir dari inspirasi atas kejeniusan bunyi dan aksara khas MALIQ & D’Essentials yang indah, dekat, dan penuh refleksi atas hidup yang kita jalani. Bahwa di dalam diri kita ada cinta besarnya Arah yang akan melakukan apa pun untuk orang yang disayanginya. Dalam diri kita pula ada Kala yang berani berpikir kritis akan apa itu benar dan salah. Dan kita semua adalah Pasukan Pelita yang terus bertahan dan berjuang merawat kehidupan,” ujar Nuya.

Pasukan Pelita
Dari sanalah lahir sebuah dunia yang utuh. Hampir 20 lagu MALIQ diinterpretasikan ulang menjadi bagian dari perjalanan emosional para tokohnya. Lagu-lagu yang sebelumnya berdiri sendiri kini saling terhubung, membentuk satu alur cerita yang mengalir tanpa kehilangan ruh aslinya.
Namun semegah apa pun konsep dan tata artistik yang dihadirkan, dunia Pasukan Pelita tidak akan terasa hidup tanpa para pemeran mudanya.
Sebelas aktor cilik menjadi jantung pertunjukan ini. Mereka bukan sekadar menyanyikan lagu-lagu MALIQ, tetapi menghidupkan setiap lirik menjadi pengalaman yang dapat dirasakan penonton. Tokoh Arah, yang diperankan bergantian oleh Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar, menjadi pusat perjalanan cerita.
Menariknya, karakter yang sama dimainkan dalam dua interpretasi berbeda—laki-laki dan perempuan—memberikan nuansa emosional yang berbeda di setiap pementasan tanpa mengubah esensi kisahnya.
Bersama Kala, Volta, Langit, Hara, Palu, Raga, Binbin, dan Lagu, mereka membangun chemistry yang begitu alami sehingga penonton perlahan lupa bahwa sebagian besar pemeran di atas panggung masih berusia sangat muda.
Kekuatan mereka semakin diperkuat oleh tata produksi yang impresif. Projection mapping, permainan laser, set panggung modular, teknik puppetry, hingga iringan langsung Wishnu Dewanta Orchestra membuat dunia futuristis terasa hidup.
Salah satu adegan paling memikat adalah perjalanan di tengah laut ketika badai menerjang kapal Pasukan Pelita. Perpaduan visual, koreografi, tata cahaya, dan aransemen musik menghadirkan sensasi sinematik yang membuat penonton larut dalam petualangan mereka.
Yang menarik, tak satu pun lagu terasa dipaksakan masuk ke dalam cerita. Setiap potongan lirik justru menemukan konteks baru, seolah sejak awal memang diciptakan untuk mengiringi perjalanan para tokoh.

Dunia yang Utuh dari Sebuah Lagu
Di balik seluruh kemegahan produksi itu, Nuya sesungguhnya sedang mengejar sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada sekadar membuat pertunjukan yang spektakuler.
“Saya ingin membuat karya yang bisa dinikmati semua generasi dan terus hidup di generasi mendatang. Karya-karya yang timeless, tidak hanya kekinian, panjang umur, memiliki pesan positif, dan selalu relevan,” katanya.
Lewat Musikal Senja Teduh Pelita, Nuya Susantono membuktikan bahwa lagu yang baik tidak pernah berhenti sebagai musik yang didengar. Di tangan seorang pencerita, ia dapat tumbuh menjadi sebuah dunia yang utuh—tempat harapan, keluarga, keberanian, dan masa depan bumi dipertemukan dalam satu petualangan yang sama.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of Indonesia Kaya
