
”Ketika kamu mau bertumbuh, carilah ekosistem dimana kamu merasa paling bodoh di ruangan itu.” - read more
Akhir-akhir ini, ada begitu banyak berita, dalam maupun luar negeri, yang kerap membuat kita harus menghela nafas panjang. Mengapa kondisi terasa semakin sulit dan tidak menentu? Itu yang sering hinggap di benak kita. Akan tetapi, dari semua berita tersebut, ada satu yang terasa memberikan kesegaran. Yaitu berita-berita mengenai Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.
Sherly Tjoanda terpilih sebagai Gubernur Maluku Utara, periode 2025–2030, dan menjadi perempuan pertama yang memimpin provinsi tersebut. Ia maju Pilkada 2024, menggantikan suaminya, Benny Laos, yang wafat dalam kecelakaan speedboat, dan menang dengan dukungan delapan partai politik.
Di beberapa wawancara Sherly mengaku misinya adalah melanjutkan perjuangan mendiang suami, dengan visi pembangunan yang sama. Dikenal sebagai gubernur terkaya di Indonesia dengan total harta Rp972 miliar, gaya kepemimpinan Sherly yang unik menarik perhatian masyarakat Indonesia.

Ibu dari Rakyat Maluku Utara
Sejak menjabat pada 20 Februari 2025, Sherly Tjoanda selalu memposisikan dirinya sebagai “Ibu” bagi sekitar 1,3 juta penduduk Maluku Utara. Sebagai gubernur perempuan pertama, Sherly menekankan pendekatan kepemimpinan yang penuh kasih, empatik, dan responsif dalam mengelola keberagaman masyarakat Maluku Utara.
Hal ini seperti menjawab keraguan publik, ketika namanya muncul sebagai gubernur di tengah dominasi kepemimpinan laki-laki. Sherly seperti mendobrak hegemoni, sebagai perempuan Tionghoa pertama yang berhasil menembus dominasi kepemimpinan laki-laki Muslim di wilayah timur Indonesia.
Gaya humanisnya terbukti efektif dalam membangun tim, juga inspiratif bagi perempuan dalam menapaki jalur kepemimpinan tanpa kehilangan jati diri. Dalam beberapa video yang diunggah di sosial media, terlihat Sherly menangani masalah dengan cepat dan lugas.
Misalnya, saat berkunjung ke SMAN 1 Morotai, ada siswa yang curhat kalau ada guru yang jarang masuk kelas, Sherly menjawab lugas,”Ooo..Guru apa saja mari. Kamu bercurhat ke orang yang tepat. Langsung sebut mata pelajaran.”
Setelah itu ia berpesan ke Kepala Sekolah,”Ngga boleh dimarah ya anaknya, dia berkata jujur.”
“Kalau ada yang marah kamu, DM saya,” lanjutnya kepada siswa tersebut.

Pada kesempatan berbeda, ia dilaporkan ada warga yang anaknya mengalami stunting. Sang Gubernur langsung menghampiri, menggendong si anak, dan menginstruksi bawahannya untuk membawa anak tersebut ke RSUS Chasan Boesoirie. Karena butuh waktu minimal 6 bulan untuk perawatan, Sherly minta si ibu untuk menemani, dan menegaskan bahwa seluruh kebutuhan harian akan ditanggung.
Masih banyak contoh lain yang memperlihatkan gaya kepemimpinannya yang unik. Ia selalu menempatkan diri sebagai ibu yang mengayomi, menyelesaikan masalah dengan komunikasi dan kasih sayang.
Namun, bila ada yang bekerja dengan tidak benar, ia juga tak segan untuk memutus hubungan kerja. Seperti ketika ia menginspeksi salah satu renovasi rumah tidak layak huni. Melihat hasil renovasi yang jauh dibawah standar dan menerima laporan langsung dari warga, tanpa ragu ibu tiga anak ini langsung mengganti kontraktor yang mengerjakan.
