
”Ketika kamu mau bertumbuh, carilah ekosistem dimana kamu merasa paling bodoh di ruangan itu.” - read more
Gaya Kepemimpinan Sherly Tjoanda
1. Memimpin dengan Empati
Sherly Tjoanda mempraktikkan empati sebagai kekuatan utama dalam menjalankan tanggung jawabnya. Dalam setiap pengambilan keputusan, Sherly menempatkan dirinya sebagai bagian dari tim, bukan sebagai atasan yang jauh dari realita kerja. Ia mendengarkan pendapat, memahami konteks personal setiap anggota, lalu mengambil keputusan yang mempertimbangkan aspek manusiawi sekaligus profesional.
Sherly juga berusaha untuk mendengar setiap permasalahan yang terjadi dengan terjun langsung ke masyarakat. Ini menjadi contoh penting bahwa kepedulian bukan hanya berdampak pada iklim kerja, tapi juga memengaruhi cara kita berinteraksi.
Pemimpin seperti Sherly mampu menciptakan ekosistem kerja yang sehat, yang kemudian merefleksikan nilai-nilai empati ke ruang sosial yang lebih luas, mulai dari layanan publik hingga kebijakan yang inklusif.
2. Tegas Tanpa Keras
Sherly tidak menggunakan nada tinggi, namun menujukkan ketegasannya melalui sikap dan arah yang jelas. Gaya ini mengajarakan kita bahwa kekuatan tidak selalu harus terlihat dominan; cukup dengan konsisten pada nilai dan transparan dalam arahan.
Sebagian orang mungkin masih mengharapkan pemimpin ‘galak’, tapi Sherly membuktikan bahwa kejelasan jauh lebih efektif dari tekanan. Ia juga menularkan cara ini ke ruang-ruang sosial yang lebih luas seperti pendidikan, pelayanan publik, pertanian, dan perdagangan.

3. Komunikatif
Sherly selalu terbuka dan komunikatif, baik dengan timnya maupun dengan masyarakat. Ia mendengar, bukan hanya memberi instruksi.
Dengan membangun budaya komunikasi terbuka, Sherly menunjukkan bahwa ini akan berdampak pada keterlibatan masyarakat.
Ketika pemimpin bisa menjadi jembatan yang menyambungkan suara banyak pihak, maka proses pengambilan keputusan pun lebih akurat dan diterima secara luas.
4. Mau Belajar
Sebelum menjabat Gubernur, Sherly adalah ibu rumah tangga dan pengusaha. Untuk bisa memimpin dengan baik di tengah budaya patriarki yang kental, ia pun belajar. Ia belajar dari banyak pihak, salah satunya dari Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur. Kegigihannya menjadi bukti bahwa perempuan bisa memimpin dengan integritas yang kuat.
Perempuan kelahiran Ambon, 8 Agustus 1982 ini ia juga memberikan kerja nyata dari hasil belajarnya. Dengan kegigihan dan belajar langsung dari pejabat daerah lainnya, ia mampu menjadi pemimpin yang bisa dicintai oleh masyarakat.
Mengutip kalimat Sherly di salah satu acara,”Ketika kamu mau bertumbuh, carilah ekosistem dimana kamu merasa paling bodoh di ruangan itu. Maka kamu akan belajar dari semua yang pintar di ruangan itu. Kalau sudah merasa paling pintar, keluar, cari lagi ruang dimana kamu merasa paling bodoh.”

5. Konsisten
Kepemimpinan ibu dari Edberd, Edelin, dan Edrick ini juga menonjol karena konsistensinya. Ia menjalankan apa yang ia katakan, dan memegang teguh nilai-nilai yang ia yakini.
Dalam hubungan dengan masyarakat, konsistensi pemimpin adalah penentu utama keberhasilan program, kebijakan, bahkan kepercayaan publik. Ketika masyarakat melihat seorang pemimpin berkomitmen dan tak berubah sikap hanya demi kepentingan pribadi, maka partisipasi dan dukungan pun akan tumbuh secara organik.
Gaya kepemimpinan Sherly Tjoanda, selain relevan bagi organisasi atau politik, juga memberi pengaruh positif bagi pola pikir masyarakat. Ia membuktikan bahwa pemimpin yang jelas arahnya, penuh empati, dan otentik dalam tindakan adalah pemimpin yang dibutuhkan saat ini.
By: Kazuri Team (from many resources)
Photo: Courtesy of Sherly Tjoanda, Intan Avantie
