
Dua Kisah tentang Kesempatan, Kepemimpinan, dan Dampak Nyata - read more
Di balik perjalanan panjang McDonald’s Indonesia selama lebih dari 35 tahun, ada banyak kisah perempuan yang tumbuh bersama perusahaan dan berhasil menciptakan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya. Dua di antaranya adalah Ratna Wirahadikusumah dan Dewie Kulsum. Dua perempuan dengan latar belakang berbeda yang sama-sama menemukan ruang untuk berkembang melalui kesempatan yang inklusif.
Ratna Wirahadikusumah – Memimpin di Lini Strategis

Ratna Wirahadikusumah kini menjabat sebagai Director Store Development Group McDonald’s Indonesia. Selama lebih dari dua dekade, ia memimpin pengembangan ratusan restoran McDonald’s di Indonesia, dari proses pencarian lokasi, desain, hingga konstruksi. Bidang identik dengan dominasi laki-laki, namun Ratna membuktikan bahwa perempuan juga mampu memimpin di lini strategis dan teknis.
Berlatar belakang arsitektur serta pengalaman di dunia properti dan keuangan, Ratna telah terlibat dalam pembukaan 250 lebih restoran McDonald’s Indonesia. Beberapa di antaranya termasuk McD Kebo Iwa di Bali, McD Megamas Beachfront di Manado, hingga McD Ampera di Jakarta Selatan yang menjadi restoran pertama McDonald’s Indonesia dengan sertifikat Bangunan Gedung Hijau (BGH) Tingkat Madya untuk tahap perencanaan.
Bagi Ratna, kepemimpinan lahir dari integritas, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar.
“Saya percaya perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan memimpin. Yang terpenting adalah keberanian mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut,” ujar Ratna Wirahadikusumah.
Dewie Kulsum – Kemitraan Berkelanjutan

Sementara itu, kisah Dewie Kulsum memperlihatkan bagaimana kemitraan yang berkelanjutan mampu menciptakan dampak ekonomi yang luas. Dewie memulai perjalanannya pada 1998 sebagai desainer grafis di sebuah usaha percetakan kecil di Bandung. Saat itu, McDonald’s Indonesia menjadi salah satu klien pertamanya.
Hampir tiga dekade kemudian, Dewie berhasil membangun bisnis konveksi sendiri yang kini mempekerjakan sekitar 60 karyawan tetap dan lebih dari 100 tenaga kerja tambahan dari komunitas sekitar. Dari usaha rumahan berskala kecil, bisnisnya berkembang menjadi usaha yang memberdayakan banyak orang.
Menurut Dewie, perjalanan tersebut tidak lepas dari dukungan dan pendampingan yang ia dapatkan selama bermitra dengan McDonald’s Indonesia.
“Saya belajar banyak tentang standar produksi, manajemen bisnis, hingga pentingnya kesejahteraan karyawan. Buat saya, McDonald’s Indonesia bukan sekadar mitra bisnis, tetapi bagian dari perjalanan hidup saya,” kata Dewie Kulsum.
Ia juga mendorong perempuan Indonesia untuk tidak takut memulai dari nol dan berani mengambil peluang yang ada.
Kisah Ratna dan Dewie menjadi gambaran bagaimana kesempatan yang inklusif dapat membantu perempuan berkembang sekaligus membawa dampak bagi orang lain.
Sepenuhnya Indonesia
Human Resources & General Services Director PT Rekso Nasional Food, Yulianti Hadena, mengatakan McDonald’s Indonesia bangga melihat perempuan-perempuan Indonesia di dalam ekosistem perusahaan tumbuh menjadi pribadi mandiri dan berani berkarya.
“Ketika ruang yang inklusif benar-benar hadir, potensi perempuan dapat berkembang tanpa batas,” ujar Yulianti.
Komitmen tersebut juga tercermin dalam studi independen Oxford Economics periode April 2024 hingga Maret 2025. Studi itu mencatat bahwa 40 persen karyawan McDonald’s Indonesia adalah perempuan dan 44 persen posisi kepemimpinan dipegang perempuan. Selain itu, McDonald’s Indonesia turut berkontribusi terhadap sekitar 48.700 lapangan kerja di sektor pertanian, distribusi, dan jasa.
Melalui momentum Hari Kartini, McDonald’s Indonesia kembali menegaskan bahwa “Sepenuhnya Indonesia” bukan hanya tentang menghadirkan produk lokal, tetapi juga tentang membangun sumber daya manusia Indonesia yang diberi ruang untuk tumbuh, memimpin, dan menciptakan perubahan positif.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of McDonald’s Indonesia
