
Sebuah publikasi yang menyoroti peran seniman menelusuri sistem yang membentuk masa depan - read more
Tak hanya berkarya, seniman juga memiliki peran penting dalam perubahan yang terjadi di lingkungan kita. Di tengah upaya pemerintah, ilmuwan, dan pembuat kebijakan memahami berbagai kekuatan teknologi dan lingkungan yang membentuk masa depan, para seniman di Asia Tenggara telah lama menelusuri perubahan tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut, platform kuratorial independen RUANG// secara resmi meluncurkan RUANG// Journal. Sebuah publikasi baru yang didedikasikan untuk penulisan kritis tentang seni kontemporer di Asia Tenggara. Sekaligus menjadi langkah penting dalam memperluas diskursus mengenai praktik seni sebagai bentuk penelitian di kawasan ini.

Peluncuran jurnal ini hadir di tengah meningkatnya perhatian global terhadap kompleksitas sistem teknologi dan ekologi. Pada Februari 2026, sebuah konsorsium riset internasional mengumumkan inisiatif ilmiah besar untuk memetakan human exposome. Yaitu sebuah akumulasi paparan lingkungan yang memengaruhi kehidupan manusia. Di saat bersaman, berbagai inisiatif seperti program Futures Literacy dari UNESCO juga berupaya membantu masyarakat memahami dan menavigasi masa depan yang semakin tidak pasti.
Di Asia Tenggara sendiri, dinamika global ini terasa sangat nyata. Kawasan ini menjadi pusat produksi berbagai infrastruktur elektronik dunia, sekaligus menghadapi dampak lingkungan dari perkembangan industri tersebut. Urbanisasi yang cepat dan berkembangnya teknologi smart city berjalan berdampingan dengan ekologi pesisir yang rentan. Sementara jalur-jalur ekstraksi historis masih terus membentuk jaringan logistik masa kini.
Bagi banyak seniman, kondisi tersebut bukan sekadar isu global, melainkan bagian dari pengalaman sehari-hari yang turut membentuk praktik kreatif mereka.

Natasha Doroshenko Murray, Founder of RUANG// and Editor-in-Chief of RUANG// Journal, menyebut, “Di Asia Tenggara, para seniman sering bekerja langsung di dalam lingkungan yang ingin mereka pahami, mulai dari infrastruktur industri dan jaringan digital hingga hutan, garis pantai, dan sistem perkotaan. Praktik mereka menunjukkan bagaimana kondisi teknologi dan ekologi benar-benar dialami di lapangan. RUANG// Journal hadir untuk mendukung penulisan yang melihat penyelidikan artistik ini sebagai bentuk pengetahuan yang penting.”
Melintasi Batas antara Seni, Penelitian, dan Penyelidikan Kritis
Dalam edisi ini, para kontributor membahas karya dari 25 seniman kontemporer, termasuk Marwa Arsanios, Tuan Andrew Nguyen, Yuki Kihara, Lisa Reihana, Brett Graham, Mata Aho Collective, Michel Tuffery, Yee I-Lann, dan Robert Zhao Renhui. Praktik mereka beragam, mulai dari kerja lapangan terkait lingkungan, eksperimen media spekulatif, hingga eksplorasi mengenai infrastruktur industri, teknologi pengawasan, dan pengetahuan ekologis masyarakat adat.
Esai-esai dalam edisi perdana ini menampilkan berbagai pendekatan artistik yang melintasi batas antara seni, penelitian, dan penyelidikan kritis. Beberapa seniman bekerja bersama ilmuwan atau melakukan riset lingkungan secara langsung. Sementara yang lain mengeksplorasi isu seperti teknologi pengawasan, sistem tenaga kerja, dan infrastruktur tropis melalui media eksperimental, narasi spekulatif, serta praktik lintas disiplin.

Kontributor edisi pertama RUANG// Journal meliputi Yu Ke Dong, Annabelle Tan Kai Lin, Kenneth Wong See Huat, Elena Wise, Jaron Lua Jie Long, Wenceslaus Mendes, Chiara Serpani, serta Victoria Hertel dan Isa Pengskul.
Diterbitkan secara gratis dan tanpa iklan, edisi perdana ini mencerminkan komitmen RUANG// untuk memperluas akses terhadap penulisan kritis sekaligus mendorong perkembangan wacana kuratorial di Asia Tenggara. Dengan mempertemukan penulis yang sedang berkembang maupun yang telah mapan, jurnal ini diharapkan dapat berkontribusi pada tumbuhnya ekosistem intelektual yang lebih kuat bagi seni kontemporer di kawasan.
By: Kazuri Team
