Museum MACAN akan menampilkan eksplorasi narasi sejarah dan futuristis dari Kei Imazu, serta karya imersif Olafur Eliasson - read more
Tiga presentasi menarik akan hadir di Museum MACAN di tahun 2025 ini. Diawali pameran koleksi museum pada awal Mei, dengan pilihan karya seni yang diperbarui, menawarkan wawasan baru tentang seni modern dan kontemporer dari Indonesia dan mancanegara.
Di akhir Mei, Museum MACAN menghadirkan karya Kei Imazu, perupa Jepang yang berbasis di Bandung, akan menampilkan proyek solo yang memadukan teknik tradisional dan teknologi digital untuk mengeksplorasi interaksi dinamis antara narasi sejarah dan visi futuristis.
Dan sebagai penutup tahun, Your curious journey, presentasi besar oleh perupa Islandia-Denmark, Olafur Eliasson, yang akan hadir di Jakarta sebagai perhentian keempat dari tur pamerannya; membawa pengunjung ke dalam instalasi imersif yang menantang persepsi dan kesadaran terhadap lingkungan.
Pointing to the Synchronous Windows (10 Mei dan 24 Mei – 5 Oktober 2025)
Pameran ini menampilkan karya-karya terpilih dari koleksi Museum MACAN yang menjelajahi hubungan dinamis antara tubuh dan ruang, menyoroti beberapa karya perupa Indonesia dan mancanegara seperti Ed Ruscha, Josef Albers, Affandi, Ay Tjoe Christine, Kazuo Shiraga, Mark Grotjahn, Julian Opie, Pinaree Sanpitak, A.D. Pirous, Yayoi Kusama, Lee Bul, Sudjana Kerton, Ahmad Sadali, Lee Man Fong, dan lain-lain.
Karya-karya dalam pameran ini mengeksplorasi kemampuan adaptasi, ketahanan, dan kerentanan tubuh, merefleksikan bagaimana perupa menanggapi kondisinya yang senantiasa berubah. Mereka juga mempertimbangkan bagaimana gestur tubuh dapat mengkomunikasikan makna di luar kata-kata, mengungkap peran tubuh dalam mengekspresikan gerakan sosial dan budaya.
Pada saat yang sama, pameran ini meneliti bagaimana energi tubuh menantang batasan, mengganggu struktur yang represif, dan merebut kembali ruang, menciptakan momen perlawanan dan ruang liminal. Pameran ini juga menyoroti kemampuan tubuh untuk membentuk dan dibentuk oleh lingkungannya, baik melalui gerakan, interaksi, atau perluasan teknologi.
Tubuh dan ruang telah lama menjadi subjek utama praktik artistik. Pameran ini menggarisbawahi hubungan erat mereka, menggambarkan bagaimana masing-masing dibentuk oleh keterhubungan mereka—hubungan yang terus-menerus berada dalam kontestasi dari waktu ke waktu.

Kei Imazu: The Sea is Barely Wrinkled (Laut Nyaris Tak Beriak) (24 Mei – 5 Oktober 2025)
The Sea is Barely Wrinkled (Laut Nyaris Tak Beriak) menyusuri ‘peta waktu’ yang menghubungkan masa lalu kolonial Indonesia, tantangan ekologis masa kini, dan mitologi lokal. Terinspirasi dari tragedi tenggelamnya kapal Batavia pada 1628, pameran ini menyoroti warisan kolonial yang masih berlangsung serta isu-isu lingkungan yang mendesak di Jakarta. Pameran ini juga menampilkan figur mitologis Indonesia seperti Dewi Sri dan Nyai Roro Kidul sebagai narasi tandingan terhadap paradigma kolonial yang antroposentris. Melalui pameran ini, Imazu mengaburkan batas antara sejarah, mitos, dan fiksi, mengajak kita merenungkan keterhubungan manusia dengan sejarah berlapis, alam, dan waktu.
Kei Imazu (l. Jepang, 1980) adalah perupa yang berbasis di Bandung yang memadukan teknik artistik tradisional dengan teknologi digital untuk menavigasi dan menggali sejarah secara non- linear, di mana fragmen ingatan, kekuasaan, dan tempat saling bertautan. Sejak berpindah ke Bandung pada 2018, Imazu telah memperluas risetnya melintasi berbagai temporalitas dan geografi, mengeksplorasi narasi warisan kolonial dan transformasi lingkungan.

Olafur Eliasson: Your curious journey (22 November 2025 – 5 April 2026)
Your curious journey adalah pameran keliling yang menghadirkan beragam karya seni lintas media, menampilkan tema-tema utama dalam praktik Olafur Eliasson. Selama tiga dekade eksplorasi artistiknya, karya-karya Eliasson terus mempertanyakan persepsi, mendefinisikan ulang pengalaman spasial, dan menanggapi tantangan lingkungan.
Pameran ini mengundang audiens untuk terlibat dalam eksplorasi Eliasson mengenai kesadaran sensori dan ekologis, menawarkan kesempatan unik untuk merasakan dampak visioner dari karyanya yang mendalam dan menguggah pemikiran. Di Museum MACAN, pameran ini juga akan menampilkan karya dari koleksi museum, menambahkan elemen yang berbeda dari presentasi di institusi internasional lainnya.
Eliasson dikenal dengan karya-karya lintas disiplin dan telah berpameran di museum-museum internasional dan ruang publik ternama di seluruh dunia sejak 1997. Instalasi-instalasi yang memukau menjadikan hal-hal tak berwujud menjadi nyata. Melampaui estetika semata, praktik artistiknya memberi makna yang kuat dengan audiens kontemporer melalui komitmennya terhadap isu sosial dan lingkungan.
Sebagai bagian dari tur Asia Pasifik, Your curious journey telah dipresentasikan di Singapore Art Museum, Auckland Art Gallery Toi o Tāmaki, dan Taipei Fine Arts Museum sebelum tiba di Museum MACAN Jakarta. Pameran ini akan berakhir di Museum of Contemporary Art and Design, Manila.
Venus Lau, Direktur Museum MACAN, mengatakan, “Kami dengan bangga mempersembahkan program pameran 2025 di Museum MACAN. Tahun ini akan menghadirkan presentasi koleksi museum yang dirancang dengan rekontekstualisasi dari koleksi yang telah dikenal oleh publik, debut dari eksplorasi Kei Imazu yang mendalam akan narasi kolonial dan ekologi Indonesia, serta instalasi imersif Olafur Eliasson yang menyoroti isu-isu sosial dan lingkungan yang krusial. Pameran ini tidak hanya akan merayakan keunggulan artistik, namun juga mendorong pengunjung untuk merefleksikan kompleksitas dunia kita, menawarkan perspektif baru tentang bagaimana seni membentuk dan menantang pemahaman kita.”
By: Kazuri Team | Photo: Courtesy of Museum MACAN


