Kisah Perjuangan Ibu Tunggal dalam Film PANGKU

Surat Cinta Reza Rahadian kepada sang Mama dan seluruh ibu di Indonesia - read more

Di gelapnya malam, di pinggiran jalur pantura, seorang perempuan muda berjalan kaki sendirian setelah diturunkan dari truk yang ditumpanginya. Membawa tas besar, perempuan yang tengah hamil tua ini terseok melewati jalan sepi, lalu berganti dengan deretan tempat hiburan malam. Di ujung jalan, ia bertemu sebuah warung kopi yang hanya berisi seorang tamu dan pemiliknya seorang perempuan tua. Di warung kopi inilah, kehidupan baru Sartika, nama perempuan tersebut, dimulai.

Itu tadi adalah adegan yang mengawali film Pangku. Film perdana besutan Reza Rahadian sebagai sutradara. Semua orang telah mengakui kehebatan Reza Rahadian sebagai seorang aktor. Mulai dari memerankan BJ Habibie, guru bangsa Tjokroaminoto, hingga bos menyebalkan dalam My Stupid Bos. Semua diperankan dengan begitu baik.

Namun, bagaimana ketika ia bertukar peran, bukan lagi sebagai aktor, melainkan sebagai orang yang berdiri di belakang layar?

Ya, film Pangku adalah debut Reza Rahadian sebagai sutradara. Dari beberapa wawancara dengan para pemeran seperti Christine Hakim, Fedi Nuril, Claresta Taufan hingga Devano Mahendra, semua menyebut, Reza Rahadian adalah sutradara yang perfeksionis.

Untuk tahu seperfeksionis apakah Reza sebagai sutradara, tentu saja kita harus menonton langsung debutannya.

Kembali ke Sartika (Claresta Taufan), tokoh utama dalam film Pangku. Ia memilih meninggalkan tempat asalnya untuk mencari kehidupan baru baginya dan anak yang dikandungnya. Dan Bu Maya (Christine Hakim), pemilik warung kopi, tanpa banyak bertanya, menawarkan bantuan dan mengajak Sartika tinggal bersamanya. Sebuah bentuk ketulusan dari mereka yang hidup dalam kesusahan.

Gadis Kopi Pangku

Setelah melahirkan, Sartika bekerja keras demi menghidupi anaknya, hingga akhirnya ia sampai pada satu keputusan berat, menjadi gadis kopi pangku. Reza menggambarkan fenomena ini dengan sangat jujur dan berani. Bagaimana seorang ibu muda harus berdandan menor dan duduk di pangkuan pelanggan pria sambil menyajikan kopi. Sementara itu, Bayu sang anak, menyaksikan kegiatan tersebut.

See also  Meet & Greet “Rangga & Cinta” di Rumah Indofood Jakarta Fair 2025

Ketelitian Reza disini patut dipuji, wajah Sartika memang cerah oleh kosmetik, tapi bagian leher, tetap gelap seperti kulit aslinya. Karena memang seperti itulah cara berdandan kaum marjinal di masa itu, dimana set dibuat tahun 1998, ketika dunia belum berkenalan dengan digital.

Sebagai gadis kopi pangku, kondisi ekonomi berangsur membaik, hingga akhirnya Sartika mempunyai cukup tabungan untuk mendaftarkan Bayu (Shakeel Fauzi) ke sekolah. Tapi ternyata masalah belum selesai, di masa itu, anak yang mendaftar sekolah harus memiliki ayah, karena hanya nama ayah yang dicantumkan di raport dan ijazah.

Di saat bersamaan, Hadi (Fedi Nuril), supir truk tampan pendiam yang juga pelanggan warung, mulai tertarik pada Sartika. Sejak awal bertemu, Hadi tak pernah memanfaatkan Sartika, hanya membeli kopi dan jajanan untuk dirinya dan keneknya. Ia bahkan kerap memberikan ikan segar yang tersisa di truknya.

Mencari Bapak

“Cari kresek mah gampang, cari bapak yang susah!”

Kalimat yang terkesan diucapkan sambil lalu oleh Bayu saat Gilang memintanya mencari kresek untuk membuat layangan. Terdengar sederhana tapi menohok, menggambarkan kekecewaan bocah kecil itu. Wajar ia kecewa, mengingat ibunya susah payah mengumpulkan uang, namun ia masih belum bisa sekolah, hanya karena tidak memiliki ayah.

Disini Reza tidak menggambarkan kekecewaan Bayu dan Sartika dengan berlebihan, cukup dengan kalimat sederhana namun tajam menusuk.

Kedekatan Sartika dan Hadi berujung pada pernikahan. Kebahagiaan melingkupi keluarga kecil ini. Sartika dan Bayu pindah ke rumah Hadi yang meski kecil tapi cukup nyaman. Selain itu, berbekal Kartu Keluarga dengan Hadi sebagai ayah, Bayu pun akhirnya bisa sekolah.

Sampai disini saya dan mungkin penonton lain berpikir cerita sudah selesai, selanjutnya akan happy ending. Akan tetapi, Reza memberikan plot twist yang luar biasa, yang mampu menguras emosi penonton. Antara marah dan air mata menghiasi studio menyaksikan kebahagiaan Sartika yang harus kembali hancur.

Pages: 1 2