Kisah Perjuangan Ibu Tunggal dalam Film PANGKU

Surat Cinta Reza Rahadian kepada sang Mama dan seluruh ibu di Indonesia - read more
Jujur dan Perfeksionis

Film Pangku memang debut Reza Rahadian sebagai sutradara. Akan tetapi, cara ia bertutur, sama sekali tidak menunjukkan kalau ini adalah hasil karya sutradara baru. Tak salah bila semua pemeran di film ini menyebutnya perfeksionis. Setiap detail mendapat perhatian darinya. Bahkan hal sesimpel tarikan nafas Christine Hakim pun diatur oleh Reza. Luar Biasa!

Sayangnya, film sebagus ini tidak mendapat apresiasi yang cukup di negaranya sendiri. Mungkin penonton kita masih lebih menyukai drama yang menjual air mata. Sementara, film Pangku tidak menjual air mata, ia menjual kegigihan seorang perempuan yang berjuang untuk memberikan kehidupan bagi anaknya.

Reza memotret kehidupan di wilayah pantura dengan jujur. Seperti sering ia katakan di beberapa podcast,”Banyak orang yang tidak punya waktu untuk mengeluh. Bahkan mereka hanya berpikir untuk bertahan hidup.”

Kejujuran itu yang mungkin sulit diterima. Dimana untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah, seorang perempuan terkadang harus merelakan tubuhnya disentuh lelaki asing. Atau seperti Sartika yang meski tidak suka namun terpaksa melakoni setiap malam duduk di pangkuan pria sambil membuat kopi. Ya, tak banyak yang mau atau mampu melihat fenomena ini dengan mata terbuka.

Pemilihan cast pun terasa sangat pas. Hampir setiap aktor dan aktris di film ini memiliki warna kulit sawo matang. Karena tinggal di daerah pantai sudah pasti akan membuat kulit kita lebih gelap.

Masih ditambah pemilihan lagu. Lagu ‘Rayuan Permpuan Gila’ dari Nadin Amizah terasa begitu menyatu dengan cerita. Begitu pun dengan lagu ‘Ibu’ dari Iwan Fals, begitu pas mengiringi perjuangan Sartika.

Penghargaan Busan International Film Festival

Dengan semua unsur sinematografi yang apik, tak heran bila berhasil meraih penghargaan. Seperti empat penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF) 2025, yaitu KB Vision Audience Award, FIPRESCI Award, Bishkek International Film Festival-Central Asia Cinema Award, dan Face of the Future Award.

See also  Esok Tanpa Ibu; Saat AI Gantikan Peran Ibu

Film ini menunjukan potret getir kehidupan, juga surat cinta pahit dari Reza Rahadian untuk ibunya, dan juga untuk semua ibu tunggal yang berjuang sendirian di tengah keterbatasan.

Kata “Pangku” sendiri bukan hanya mengacu pada kopi pangku, tetapi juga menggambarkan kehangatan dari pangkuan ibu. Kegetiran, kepahitan, realita hidup dan pengorbanan seorang ibu.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku, anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah

Lagu ‘Ibu’ dari Iwan Fals ini setia menemani penonton yang diam terpaku, merenungkan apa yang baru saja mereka saksikan.

By: Kazuri Team

Photo: IG @filmpangku

Pages: 1 2