
Diluncurkan pada 2022, PINTU Incubator telah menjadi wadah pengembangan bagi desainer muda - read more
Jakarta Fashion & Food Festival (JF3) 2025 usai digelar. Sebuah perayaan yang melibatkan begitu banyak insan fashion dan menjadi salah satu rujukan event fashion di Indonesia. Ada satu hal yang menarik dan menjadi kunci dari kegiatan ini sejak beberapa tahun terakhir, yaitu PINTU Incubator.
PINTU Incubator adalah program inkubasi yang dirancang untuk mendukung dan mengembangkan talenta muda di industri fashion. Sebuah program kolaborasi antara JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Perancis melalui Institut Français Indonesia (IFI). Program ini dirancang untuk membekali para emerging brands dengan wawasan dan keterampilan yang diperlukan untuk berkembang di industri mode yang kompetitif.
Program yang diluncurkan pada tahun 2022 ini telah menjadi wadah pengembangan bagi desainer muda melalui proses kurasi, mentoring professional, pertukaran budaya, pengalaman profesional, dan eksposur ke pasar global.
Diharapkan, melalui PINTU Incubator, lahir desainer-desainer muda yang kreatif, serta memiliki wawasan bisnis dan daya saing internasional. Program ini pun pada akhirnya bisa menjadi titik temu penting antara industri, pendidikan, dan komunitas mode. Selain itu, melalui pendekatan kolaboratif dan kurasi yang mendalam, PINTU Incubator mampu menjadi fondasi bagi ekosistem fashion yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
Memasuki tahun keempat, PINTU telah menjaring lebih dari 10.000 brand, melibatkan 51 peserta, dan 86 mentor dari Indonesia dan Prancis. Dan, sebagai bagian dari penguatan kerja sama internasional, PINTU menandatangani MoU kerjasama dengan École Duperré Paris, salah satu institusi seni dan mode terkemuka di Prancis.
Penandatanganan dilakukan oleh Thresia Mareta, Co-initiator PINTU Incubator dan Alain Soreil, Direktur École Supérieure des Arts Appliqués Duperré, pada 28 Mei 2025 di Rumah Tradisional Kudus, Bentara Budaya, disaksikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati serta Chairman JF3, Soegianto Nagaria.
Thresia Mareta, menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang terus mengalir dari berbagai pihak. Presiden Emmanuel Macron bahkan secara khusus menyampaikan dukungannya terhadap program PINTU saat berpidato 29 Mei lalu di Candi Borobudur.

Residency program, langkah nyata kolaborasi lintas budaya
Pada JF3 2025 ini, PINTU memperkenalkan Residency Program, sebuah program yang dirancang untuk mempertemukan kreativitas desainer muda Prancis dengan kekayaan budaya Indonesia. Selama tiga bulan, mereka tinggal di dua wilayah berbeda untuk mempelajari teknik batik di Jawa dan eksplorasi tenun dari wilayah timur Indonesia.
Lebih dari sekedar pertukaran pelatihan teknis, para desainer juga bisa membangun koneksi dengan para artisan lokal, memproduksi koleksi lintas budaya yang akan dipresentasikan di LAKON Store Jakarta dan Premiere Classe Paris. Tahun ini, dua desainer muda Prancis, Kozue Sullerot dan Priscille Berthaud, terpilih untuk menjalani program ini.
“Residency Program ini adalah langkah nyata kami untuk memperdalam kolaborasi lintas budaya. Melalui program ini mereka langsung bekerja dengan para artisan dan melakukan proses kreatif bersama. Mereka bukan hanya mendapat pelatihan teknis, tapi juga mendapatkan pengalaman profesional dan personal,” ujar Thresia.
