
Menantang desainer muda untuk berpikir dan bekerja selayaknya profesional di industri fashion - read more
Dunia fashion memang kaya akan kreativitas. Tapi ternyata, kreatif saja tidak cukup untuk seseorang bisa menjadi desainer. Seorang desainer harus memiliki kemampuan menerjemahkan ide menjadi karya, dan kesiapan bisnis di depannya.
Sadar kalau industri fashion butuh lebih dari sekedar orang yang jago gambar sketsa atau punya ide visioner, Jakarta Fashion and Food Festival (JF3 2026) pun menghadirkan Future Fashion Designer (FFD). Sebuah program yang dirancang untuk menguji sekaligus mengembangkan kemampuan desainer muda melalui pengalaman yang menyerupai situasi industri sesungguhnya. Dan, pemenang dari kompetisi mode tersebut pun diumumkan pada Kamis (18/6/2026), GAFOY, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dari sekian banyak perancang busana baru, Arron Bryan (21), perancang busana Papua, terpilih sebagai pemenang. Demo koleksi rancangannya dalam Future Fashion Designer (FFD) 2026 berhasil mengantarnya menerima hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 50 juta.
”Hadiah yang saya terima ini buat mengembangkan modal usaha,” ujar Arron saat ditemui tim Kazuri.id.
Empat finalis adalah Agatha Lievia (24), Nabila Karimah (32) yang juga dosen di sekolah mode ESMOD, Tashannie Abigail (22), dan Azzahra Najmanisa (25). Keempatnya telah merintis jenama masing-masing meski secara usia masih tergolong muda.
Dari Hulu ke Hilir
Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ada sesuatu yang berbeda pada penyelenggaraan FFD 2026 ini. Hingga tahun 2025, ajang ini bernama Future Fashion Award, dimana fokusnya adalah kompetisi antar para perancang busana yang sudah mapan.
Tahun ini, FFD menjadi sebuah simulasi yang menuntut peserta untuk berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan layaknya profesional di industri fashion. Dengan 12 juri professional, seperti pendidik mode Susan Budihardjo, perancang aksesori dan perhiasan Rinaldy Yunardi, maestro gaun pengantin Hian Tjen, dan juri-juri lain yang merupakan profesional di bidang desain interior hingga desain grafis, para peserta diberi lima konsep dan setiap konsep hanya diberi waktu dua hari untuk pengerjaan. Untuk masing-masing konsep, peserta diberi modal Rp 500.000. Dengan begitu, mereka harus menyesuaikan material yang akan digunakan dengan bujet yang ada.

”Sengaja kami bawa banyak orang karena mode itu berkaitan dengan banyak aspek. Mode yang dipakai tidak bisa sebatas selera estetika si desainer, tetapi harus ada konteks yang menyatukan semua orang sehingga mau mengonsumsinya,” ujar Susan Budihardjo.
Di ajang ini, para perancang busana diuji dari hulu hingga hilir. Kemampuan menerjemahkan sketsa ke pola jahitan, memilih bahan, memotong bahan sesuai pola, dan teknik penjahitan, menjadi bahan penilaian. Begitu pun dengan jatuhnya busana di badan model dan bagaimana busana itu beradaptasi pada gerakan si pemakai.
”Persoalan mendasar di kalangan perancang muda ialah hasil akhir ternyata tidak seindah konsep. Ini karena kemampuan memilih bahan dasar yang sesuai dengan sketsa sering meleset,” tutur Rinaldy.
Sementara itu, Hian menjelaskan pentingnya menguasai teknik pengelolaan waktu. Jangan sampai karena keasyikan mengonsep dan mencipta, perancang malah keteteran sehingga tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat. Ini tentu akan berdampak buruk kepada kinerja desainer tersebut.

Bersaing dengan Desainer Perancis
Advisor JF3 dan salah satu inisiator PINTU—kerja sama cipta mode Indonesia dan Perancis—Thresia Mareta, menuturkan, lomba digelar ini supaya memantik semangat para perancang busana muda untuk memahami industri mode dari A sampai dengan Z.
Setelah mengikuti FFD, kelima perancang muda ini akan diikutsertakan peragaan busana PINTU, yang akan dilangsungkan pada pertengahan Juli 2026. Hasil karya mereka berlima akan ”diadu” dengan karya para perancang busana muda dari Perancis.
Thresia melihat mayoritas perancang busana di Tanah Air masih fokus mengembangkan jenama masing-masing. Jarang sekali yang memilih untuk masuk ke bawah naungan jenama lain yang sudah mapan.
”Di satu sisi, ini bagus karena semangat berwiraswasta sangat tinggi. Di sisi lain, saya mengkhawatirkan kelanjutan jenama-jenama mapan apabila desainer pendirinya sudah tidak ada. Untuk itu memang kita harus memberikan seleksi ketat agar bisa menghasilkan desainer muda yang kreatif,” kata Thresia.
Desainer asal Indonesia, bisa berkiprah di dalam maupun luar negeri, apabila mereka bisa mengeluarkan jati dirinya dan konsisten dengan karya yang dihasilkan.
”Kita harus melihat kesempatan untuk perancang busana dari Indonesia tidak hanya di dalam negeri. Di dunia yang begitu luas ini selalu ada tempat mereka berkiprah apabila konsisten berkarya dengan baik,” jelas Thresia.
Sejalan dengan tema JF3 2026, Recrafted: Shaping the Future, FFD menjadi salah satu langkah nyata mempersiapkan generasi penerus fashion Indonesia. Selain sebagai kreator, juga sebagai profesional yang memiliki kedisiplinan, daya tahan, kemampuan teknis, dan kesiapan untuk berkembang di industri.
“FFD bukan sekadar kompetisi desain. Program ini kami rancang untuk menguji bagaimana sebuah ide dapat diwujudkan menjadi karya yang nyata. Untuk memajukan industri fashion Indonesia, kita membutuhkan desainer yang tidak hanya mampu menciptakan konsep, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengeksekusinya dengan baik. Kemampuan tersebut hanya dapat dibangun melalui pengalaman, tantangan, dan proses yang nyata,” tutup Thresia Mareta.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of JF3
