Esok Tanpa Ibu; Saat AI Gantikan Peran Ibu

Esok Tanpa Ibu
Share to:
Ketika orang terkasih pergi, lalu kehadirannya digantikan oleh AI, akankah berhasil? - read more

Tak pernah mudah menerima sebuah kehilangan. Terlebih kehilangan ibu. Di banyak keluarga, ibu adalah sosok perekat. Ketika anak merasa tidak dimengerti oleh bapak, sementara bapak yang lelah bekerja menyerahkan urusan anak kepada ibu. Lalu saat ibu tiada, bagaimana jadinya hubungan antara bapak dan anak tersebut?

Realita ini melatarbelakangi cerita dalam film “Esok Tanpa Ibu”. Film baru besutan BASE Entertainment, Beacon Film, dan Refinery Media yang mengisahkan konflik remaja dengan orang tuanya. Rama (Ali Fikry), remaja 16 tahun, hanya dekat dengan sang ibu (Dian Sastrowardoyo). Kepada Ibu ia bisa bercerita, menuangkan uneg-uneg hingga kisah cintanya. Sementara itu, komunikasinya dengan Bapak (Ringgo Agus Rahman) terasa berjarak. Rama merasa selalu salah di mata Bapak, sementara Bapak merasa di usia remaja ini, Rama berubah dan sulit dimengerti.

Masalah timbul ketika Ibu mengalami kecelakaan dan koma. Komunikasi berjarak antara Rama dan Bapak, selama ini dijembatani dengan baik oleh Ibu. Dan kini, jembatan itu putus, tinggallah dua pria beda usia yang tak saling memahami satu sama lain. Setiap upaya komunikasi selalu berujung pada pertengkaran.

Untuk mengisi ruang yang kosong, Rama, dibantu temannya, berusaha menghidupkan sosok Ibu melalui i-BU. Sebuah artificial intelligent yang dibuat dari data-data sang ibu sehingga mampu menyerupai aslinya, baik dari segi wajah, suara, hingga karakter. Ketika akhirnya Ibu meninggal, kehadiran i-BU menjadi pelipur lara bagi remaja yang kehilangan.

Mampukah AI Menggantikan Sosok Asli?

Film “Esok Tanpa Ibu” mengajak kita masuk ke dalam ruang emosional seorang remaja yang kehilangan sosok yang sangat dekat dengannya. Terkadang, seseorang menjalani sakit yang panjang dulu sebelum akhirnya pergi. Hal ini membantu mereka yang ditinggalkan untuk menyiapkan mental. Namun hal ini tidak dialami oleh Rama, sehingga terjadi penolakan dalam dirinya.

See also  “SORE: Istri Dari Masa Depan” Cinta yang Tak Mengenal Waktu

Rama dengan karakter yang cenderung introvert, menyimpan kesedihannya dengan cara yang sunyi. Menolak kenyataan tanpa banyak kata, dan bertahan dalam ingatan tentang ibu yang selama ini menjadi tempat berbagi. Dari penolakan inilah lahir i-BU.

Bagi Rama, i-BU terasa sebagai ruang aman yang memungkinkannya tetap merasa ditemani, tetap merasakan kehadiran sang ibu. i-BU memberi kenyamanan, kehangatan, dan ilusi kehadiran, sehingga Rama tidak perlu benar-benar menghadapi duka.

Kehadiran i-BU di awal memang terasa manis, bahkan bagi Bapak yang sempat menentang. Sosok Ibu seolah kembali hadir, mencairkan ketegangan antara ayah dan anak, dan yang terpenting menghadirkan kembali orang tersayang.

Pages: 1 2