
Ketika orang terkasih pergi, lalu kehadirannya digantikan oleh AI, akankah berhasil? - read more
Namun, masalah datang ketika Rama semakin tergantung, hanya mendengarkan yang dikatakan i-BU, bahkan terputus secara sosial dengan kehidupan sesungguhnya. i-BU pun mulai meminta lebih banyak data, lebih banyak emosi, dan lebih banyak ruang dalam kehidupan Rama, hingga batas antara relasi manusia dan mesin perlahan mengabur.
Di sini kita melihat bagaimana teknologi seperti pedang bermata dua. Di satu sisi mampu menenangkan, di sisi lain menahan seseorang menerima kenyataan, yang memang menyakitkan.
Hubungan Rama dengan Bapak yang sempat membaik pun kembali memburuk, karena ia hanya peduli apa yang dikatakan i-BU. Ketika Bapak mengingatkan bahwa Ibu tidak akan menganjurkan hal-hal seperti yang dianjurkan i-BU, Rama tidak terima karena baginya, i-BU adalah Ibu.

Komunikasi adalah Kunci
Dewasa ini, kehadiran AI (Artificial Intelligent) seperti sudah mengisi segala sisi kehidupan. Tapi film ini mengajak kita untuk percaya bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa digantikan oleh AI. Meski segala aspek di hidup Rama terlihat futuristik, namun memperbaiki hubungan dengan ayahnya tidak bisa dilakukan oleh teknologi.
Ketiadaan sosok Ibu yang biasa menjadi jembatan, komunikasi yang lama tertunda, hanya bisa diperbaiki dengan kejujuran. Ketika Rama dan Bapak saling jujur mengungkapkan perasaan, jarak itu pun mulai memudar.
Perjalanan Rama dalam film ini dapat dibaca sebagai proses melewati tahapan berduka, yang disampaikan secara halus tanpa penjelasan eksplisit. Ketika i-BU tidak mampu menjawab pertanyaan yang sangat dibutuhkan, disitu Rama menyadari bahwa teknologi tidak benar-benar bisa menggantikan manusia.
Di bagian akhir film, Rama ditemani Bapak, memandangi taman bunga, representasi harapan dan kehidupan yang tetap berjalan di tengah kehilangan. Juga sebuah jawaban dari pertanyaan yang tidak bisa dijawab AI, mengenai apa yang ingin ditunjukkan Ibu sebelum kecelakaan terjadi.
Pada akhirnya, “Esok Tanpa Ibu” tidak menawarkan jawaban instan atau penyelesaian yang serba rapi, melainkan memilih akhir yang reflektif dan tenang. Film yang memadukan teknologi dan drama keluarga ini tidak menolak kehadiran AI, tetapi menempatkannya pada posisi yang jujur. AI adalah alat yang bisa membantu, tetapi juga bisa menyesatkan jika tidak digunakan dengan bijak.
By: Kazuri Team
Photo: From IG @filmesoktanpaibu
