Melalui PINTU Incubator, desainer muda Indonesia dan Prancis berkesempatan unjuk gigi di panggung JF3 - read more
Tiga desainer muda dari École Duperré Paris
Paris sebagai pusat fashion, telah diakui oleh seluruh dunia. Kini, tiga siswa dari sekolah desain bergengsi École Duperré Paris, yakni Pierre Pinget, Mathilde Reneaux, dan Bjorn Backes, membuktikan hal tersebut dan memukau panggung JF3 melalui koleksi mereka.
Bjorn Backes

Bjorn Backes merupakan seorang desainer aksesori luxury ready-to-wear yang memiliki spesialisasi dalam bordir dan penciptaan karya unik. Di panggung JF32025, mengusung tema ‘Requiem’ , Bjorn memperlihatkan keterampilan tangannya dalam menciptakan item fashion dari chainmail (rantai), serta busana dengan tailoring tajam serta detail memikat. Sebuah karya yang menyalurkan imajinasi gotik dan seni gerejawi, menjadikan busana sebagai suatu relikui bersejarah.
Pierre Pinget

Pierre Pinget mempresentasikan koleksi yang menafsirkan ulang simbol visual dari sosok mafia Italia melalui sudut pandang tailoring kontemporer dan pemberdayaan perempuan. Siluet blazer dan jas yang tajam dihiasi dengan motif jahitan bergaya undone berantakan; merepresentasikan jaringan mafia yang tersembunyi. Dengan material bahan berkualitas seperti wol, organza sutra, hingga beludru ungu iridescent.
Mathilde Reneaux

Koleksi Mathilde Reneaux mungkin menjadi salah satu yang paling meninggalkan kesan. Menghadirkan nuansa temaram, didominasi warna gelap, dan berpusat pada satu jenis hewan: Anjing.
Mempersembahkan koleksi yang sepenuhnya dibuat secara handmade, koleksi ini berlandaskan pada keahlian, khususnya bordir, penciptaan material, dan pembuatan aksesori.
Koleksi berjudul ‘Syrius, it dog’ ini terinspirasi dari anjing kesayangannya bernama Syrius. Sebuah koleksi yang mengeksplorasi bagaimana masyarakat secara bertahap mengubah makhluk hidup, dalam hal ini anjing, menjadi objek konsumsi.
By: Kazuri Team | Photo: Courtesy of JF3 & Ade Oyot




