
Bagaimana jika segala hal yang terasa berat dalam hidup justru bisa dinyanyikan, ditarikan, lalu ditertawakan? - read more
Hidup sebagai orang dewasa kadang memang terasa absurd. Rutinitas berjalan, pekerjaan menunggu, tuntutan datang silih berganti, sementara di tengah semuanya kita bisa tiba-tiba bertanya: sebenarnya, untuk apa semua ini?
Pertanyaan semacam itulah yang menjadi pintu masuk “Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done”, pertunjukan yang kembali hadir sebagai program utama Jakarta Doodle Fest (JDF) 2026. Terinspirasi dari karya ilustrator lokal Michelle Sherrina atau Sherchle, musikal ini membawa karakter-karakter dari dunia visualnya ke atas panggung dalam perpaduan musik, seni visual, dan cerita.
Setelah pementasan perdana di Galeri Indonesia Kaya pada November 2025 mendapat respons positif, Musikal Absurd kembali dengan cerita yang dikembangkan dan durasi yang lebih panjang. Kali ini, pertunjukan berlangsung selama 90 menit dan menghadirkan sejumlah karakter baru, termasuk Christuna Aguillera yang diperankan oleh Ode Waode. Sementara beberapa pemeran sebelumnya, seperti Made Aurellia, Pila, dan Uyo, kembali menghidupkan karakter mereka.

Dari Ilustrasi ke Panggung
Kembalinya Musikal Absurd sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah karya seni visual dapat berkembang melampaui medium asalnya.
Bagi Jakarta Doodle Fest, inilah yang menjadi salah satu gagasan utama dalam penyelenggaraan tahun keempatnya. Jika sebelumnya JDF dikenal sebagai ruang bagi kreator melalui creator’s market dan workshop, tahun ini fokusnya bergeser pada pengembangan intellectual property (IP) menjadi sebuah pengalaman yang dapat dinikmati dalam format pertunjukan.
“Karakter garapan Sherchle dalam stiker, poster, toys, hingga gantungan kunci ‘dihidupkan’ dan menjadi sebuah pengalaman yang baru,” ujar Christine Laifa, Co-founder JDF dan TFR News.
Di atas panggung, dunia Absurd mengikuti kisah Vina Panduanidup, perempuan berusia 29 tahun yang mulai kehilangan makna hidupnya sebagai pekerja ibu kota. Dalam perjalanan tersebut, ia justru menemukan makhluk-makhluk dari alam khayalan Absurd dan menelusuri kembali berbagai memori untuk menemukan semangat serta alasan untuk terus bertahan.

Serius Membicarakan Hidup, tetapi Tidak Harus Serius
Menariknya, Musikal Absurd tidak memilih pendekatan yang berat untuk membicarakan persoalan hidup.
Aulion, yang kembali dipercaya sebagai sutradara, merangkum pendekatan tersebut dengan kalimat sederhana: “Hidup kadang terlalu absurd untuk dipahami, jadi kita nyanyikan, kita tarikan, lalu kita tertawakan.”
Di balik sisi fun dan relatable-nya, pertunjukan ini tetap menyimpan refleksi mengenai beban hidup, mimpi, dan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.
Fadli Hafizan, Founder & Producer Jakarta Art House, melihat Musikal Absurd sebagai pertunjukan yang ringan tetapi membawa makna besar. Menurutnya, setiap orang memiliki beban dan mengalami sulitnya hidup, tetapi terkadang lupa untuk tertawa dan membahagiakan diri sendiri.
Pesan tersebut berkaitan dengan inner child, bagian dari diri yang mungkin semakin jarang kita dengarkan ketika kehidupan dewasa semakin sibuk.
Kembali terlibat di dalam produksi musikal ini, Indonesia Kaya mendukung karya ini untuk menemukan cara baru untuk berjumpa dengan masyarakat. Seperti dikatakan Billy Gamaliel, Program Manager Indonesia Kaya,”Kami melihat potensi “Hidup Segan But I’m Not Done” karya Sherchle untuk terus berkembang dan menemukan bentuk barunya melalui Musikal Absurd. Perjalanan ini menjadi wujud dari semangat Indonesia Kaya untuk membuka ruang bagi kreativitas, mempertemukan talenta, dan mendukung lahirnya karya-karya yang memperkaya ekosistem seni pertunjukan Indonesia.”

Semesta Absurd
Pengalaman Musikal Absurd pun tidak berhenti ketika penonton keluar dari ruang pertunjukan.
Melalui Komplek Absurd, pengunjung Jakarta Doodle Fest dapat masuk lebih jauh ke dalam dunia yang sebelumnya hanya dikenal melalui ilustrasi. Ada “Pecel Hehe”, makanan yang sebelumnya hadir dalam karya Sherchle dan kemudian menjadi bagian dari cerita musikal, hingga berbagai instalasi seperti Warung Ncik Sherchle, Fotokopi Bang Jali, Toko Kembang Absurd, Kedai Es Yuzurly, dan Balai Warga Absurd.
Dengan cara ini, ilustrasi tidak lagi sekadar sesuatu yang dilihat. Ia berubah menjadi ruang, karakter, cerita, bahkan pengalaman yang bisa dirasakan bersama.
Dan mungkin, di situlah letak daya tarik Musikal Absurd.
Ketika hidup terasa terlalu rumit untuk dijelaskan, tidak selalu berarti kita harus menemukan jawabannya saat itu juga. Sesekali, mungkin kita hanya perlu melihatnya dari sudut yang berbeda, tertawa sebentar, mengingat kembali diri kita yang dulu. Lalu, menemukan alasan untuk melanjutkan perjalanan.
Sebab, hidup boleh absurd. Yang penting, kita belum selesai.
By: Kazuri Team
Photo: Courtesy of Indonesia Kaya
