Through the Lens: Ketika HBA Mengajak Kita Melihat Bali dengan Cara Berbeda

HBA menerjemahkan cahaya, material, dan lanskap Bali menjadi pengalaman imersif di Jia CURATED 2026 - read more

Ada cara lain untuk menikmati sebuah ruang selain sekadar memasukinya.

Kita bisa berhenti sejenak, memperhatikan bagaimana cahaya bergerak, merasakan hembusan angin, melihat bayangan berubah, atau membiarkan sebuah material bercerita tentang tempat di mana kita berada.

Inilah pengalaman yang ingin ditawarkan HBA (Hirsch Bedner Associates) melalui Through the Lens, instalasi imersif yang debut di Jia CURATED 2026 di Pengembak Beach, Sanur, Bali, 13–17 Agustus 2026.

Mengikuti tema Nature Weave tahun ini, Through the Lens dirancang sebagai semacam architectural viewfinder yang mengubah posisi pengunjung. Bukan lagi sekadar seseorang yang melihat atau memiliki sebuah ruang, melainkan menjadi bagian dari pengalaman ruang tersebut.

Dan di sinilah menariknya pendekatan HBA.

Luxury yang Tidak Memisahkan Kita dari Alam

Bagi HBA, desain hospitality tidak seharusnya membuat manusia terputus dari lingkungan sekitarnya.

“Luxury hospitality should never disconnect people from their surroundings. On the opposite, it should encourage, foster, and curate their relationship with them,” ujar Christin Castillo, Principal, Indonesia, HBA Jakarta & HBA Bali.

Melalui Through the Lens, gagasan tersebut diterjemahkan menjadi sebuah ruang yang mengajak pengunjung untuk memperlambat langkah dan lebih sadar terhadap cahaya, gerakan, craftsmanship, serta tempat di mana mereka berada.

Bukan desain yang hanya indah untuk difoto, tetapi desain yang mencoba membentuk bagaimana seseorang merasa ketika berada di dalamnya.

Bali sebagai Bagian dari Pengalaman

Menariknya, Bali tidak hanya menjadi lokasi instalasi ini. Lanskap dan atmosfernya justru menjadi bagian dari konsep.

HBA Resort melihat hubungan antara cahaya, alam, dan bagaimana keduanya memengaruhi emosi manusia sebagai bagian penting dalam merancang sebuah resort yang memiliki hubungan kuat dengan lokasi dan masyarakat di sekitarnya.

Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan melalui pencahayaan. Douglas James, Managing Partner, Light Directions, menjelaskan bahwa warna-warna evocative dari matahari terbenam Bali menjadi inspirasi untuk menciptakan pencahayaan khusus yang dapat berubah secara dinamis.

“Inspired by Bali’s sunsets, we translated these evocative colours into dimmable bespoke lighting, capable of mimicking the sunset in real time through an emotional symphony of views, reflections, and materials,” ujar Douglas James.

Dengan demikian, cahaya di dalam Through the Lens bukan sekadar elemen dekoratif. Ia menjadi bagian dari cara instalasi tersebut menghadirkan kembali atmosfer Bali—melalui warna, refleksi, material, dan perubahan suasana.

Ketika Arsitektur Menjadi Sebuah Indra

Pengalaman Through the Lens bahkan dimulai sebelum pengunjung masuk ke dalam pavilion.

Permainan cahaya dan refleksi bergerak di antara panel-panel transparan, sementara hembusan angin pesisir dan aroma yang dirancang khusus ikut membentuk pengalaman kedatangan.

Di dalamnya, batas antara bangunan dan alam dibuat semakin samar.

Panel-panel berdiri bebas, kain transparan bergerak mengikuti angin, permukaan cermin membuat struktur arsitektur seolah melebur dengan lanskap, sementara sebuah bukaan dirancang seperti lensa yang membingkai pemandangan alami di hadapannya.

Ada pula macramé yang dibuat melalui kolaborasi dengan perajin lokal Bali, menghadirkan unsur craftsmanship yang tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari dialog antara material, budaya, dan lingkungan.

Pada titik ini, arsitektur tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang kita lihat.

Ia menjadi sesuatu yang kita dengar, rasakan, cium, dan alami.

Melihat dari Dalam

Di tengah pavilion terdapat sebuah centerpiece yang menjadi representasi dari warisan desain dan kemampuan teknis HBA. Dikelilingi lapisan arsitektur yang permeabel, elemen tersebut memperlihatkan pendekatan HBA dalam merancang dari dalam ke luar—menjadikan arsitektur sebagai medium untuk mengalami emosi, budaya, dan lanskap.

Barangkali ini pula yang membuat Through the Lens menarik.

Di tengah dunia hospitality yang semakin sering berbicara tentang kemewahan, pengalaman, dan desain yang Instagrammable, HBA justru mengajak kita kembali pada sesuatu yang lebih sederhana: merasakan tempat.

Bukan hanya bagaimana sebuah ruang terlihat, tetapi bagaimana ruang tersebut membuat kita merasa dan bagaimana ia menghubungkan kita dengan lingkungan di sekitarnya.

Kehadiran Through the Lens di Jia CURATED 2026 juga menjadi bagian dari perjalanan HBA di Indonesia yang telah berlangsung selama satu dekade. Selama periode tersebut, HBA telah terlibat dalam berbagai proyek hospitality, residential, dan mixed-use di Indonesia, sekaligus membangun kolaborasi antara keahlian global dengan craftsmanship dan pemikiran kontekstual lokal.

Dan mungkin, melalui instalasi ini, HBA ingin mengingatkan bahwa desain terbaik tidak selalu meminta kita untuk melihat lebih banyak.

Kadang, ia justru mengajak kita berhenti sejenak dan melihat dengan lebih dalam.

By: Kazuri Team

Photo: Courtesy of HBA