Rumah Sakit Jiwa dan Orang-Orang yang Kehilangan Nurani

"Mungkin yang paling mengkhawatirkan bukan ketika seseorang kehilangan kewarasannya. Melainkan ketika manusia masih mampu berpikir, tetapi tak lagi menggunakan nuraninya." - read more

Di atas panggung Teater Koma, kisah itu berlangsung di sebuah rumah sakit jiwa.

Ada dokter. Ada pasien. Ada aturan. Ada hierarki.

Namun semakin lama pertunjukan berjalan, semakin terasa bahwa yang sedang dipersoalkan bukanlah rumah sakit itu sendiri.

Melainkan cara manusia memperlakukan manusia lainnya.

Melalui tokoh Rogusta, seorang dokter baru yang meyakini bahwa empati dan persahabatan adalah bagian dari proses penyembuhan, Rumah Sakit Jiwa mempertemukan dua cara pandang yang saling berhadapan. Di satu sisi, ada keyakinan bahwa pasien harus diperlakukan sebagai manusia. Di sisi lain, ada sistem yang telah lama berjalan dan merasa terusik ketika seseorang mencoba mengubahnya. Upaya Rogusta membawa pendekatan yang lebih manusiawi justru memunculkan benturan dengan mereka yang merasa kekuasaan dan posisinya mulai terancam.

Miniatur Kehidupan

Di titik ini, Rumah Sakit Jiwa melampaui kisah tentang sebuah institusi kesehatan.

Rumah sakit jiwa yang dihadirkan Teater Koma terasa seperti miniatur kehidupan kita sendiri. Sebuah ruang tempat aturan dijalankan tanpa lagi mempertanyakan maknanya. Tempat hierarki lebih didengar daripada suara hati. Tempat manusia perlahan kehilangan keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu yang salah memang seharusnya dikatakan salah.

Yang menarik, pertunjukan ini tidak menghadirkan tokoh antagonis dalam pengertian yang sederhana. Tidak ada sosok yang digambarkan jahat semata-mata karena sifatnya. Yang dihadapi Rogusta adalah sebuah cara berpikir yang telah begitu lama dianggap wajar—cara berpikir yang menempatkan kenyamanan sistem di atas martabat manusia.

Di sanalah sindiran Teater Koma terasa begitu tajam.

Sering kali kita mengira ancaman terbesar bagi sebuah institusi datang dari mereka yang melawan. Padahal, Rumah Sakit Jiwa justru menunjukkan sesuatu yang lebih sederhana: kadang yang paling mengganggu sebuah sistem adalah seseorang yang masih percaya bahwa manusia harus diperlakukan sebagai manusia.

Pesan itu sejalan dengan gagasan yang diangkat pertunjukan ini, yaitu mengajak penonton merefleksikan apakah manusia masih mampu memanusiakan sesamanya di tengah dunia yang perlahan berubah menjadi “rumah sakit jiwa”.

See also  'Bunga Penutup Abad’ Kisah Getir Minke dan Nyai Ontosoroh

Barangkali itulah sebabnya pertunjukan ini terasa begitu relevan. Karena rumah sakit jiwa yang ditampilkan di atas panggung bukanlah tujuan akhirnya. Ia hanyalah metafora.

Metafora tentang dunia yang semakin akrab dengan orang-orang yang memilih diam ketika tahu ada yang salah. Tentang mereka yang memahami mana yang benar, tetapi menyerahkan keputusan kepada sistem. Tentang mereka yang tidak kehilangan akal sehat, tetapi perlahan berhenti menggunakan nuraninya.

Ketika Nurani Dikalahkan

Teater Koma menyebut pertunjukan ini sebagai ajakan untuk merefleksikan apakah manusia masih mampu memanusiakan sesamanya di tengah dunia yang perlahan berubah menjadi “rumah sakit jiwa”. Pertanyaan itu tidak terasa menghakimi. Ia justru terdengar seperti bisikan yang terus mengikuti penonton, bahkan setelah pertunjukan usai.

Mungkin karena rumah sakit jiwa yang sesungguhnya tidak selalu memiliki dinding, ruang perawatan, atau seragam putih.

Kadang ia hadir ketika nurani mulai dikalahkan oleh jabatan.

Ketika empati dianggap mengganggu keteraturan.

Ketika mengikuti arus terasa lebih aman daripada mempertahankan kemanusiaan.

Dan mungkin, di situlah kekuatan terbesar Rumah Sakit Jiwa.

Ia tidak meminta penontonnya menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Ia hanya meninggalkan satu pertanyaan yang diam-diam terus hidup setelah tirai ditutup:

Di tengah sistem yang kita jalani setiap hari, apakah kita masih cukup berani untuk tetap memanusiakan manusia?

By: Kazuri Team

Photo: Courtesy of Bakti Budaya Djarum Foundation