Memimpin bisnis yang ‘maskulin’ tak membuatnya mundur, justru membawa TIKI kian berkibar - read more
Didirikan 1 September 1970 oleh Alm. Bpk Soeprapto Suparno dan Ibu Hj. Nuraini Soeprapto Suparno, TIKI (PT Citra Van Titipan Kilat) merupakan pionir industri kurir di Indonesia. Di tengah semakin ramainya industri kurir dan maraknya perusahaan baru yang bermunculan, TIKI bukan hanya tetap bertumbuh tetapi juga berhasil meraih beberapa penghargaan bergengsi.
Di usia 55 tahun, TIKI kini dipimpin oleh Yulina Hastuti, anak ke-3 dari pasangan Alm. Bpk Soeprapto Suparno dan Ibu Hj. Nuraini. Dalam sebuah wawancara terbatas, Yulina yang kini menjabat sebagai Direktur Utama bercerita tentang penyerahan tongkat estafet dari sang ayah. Sempat surprise karena merasa bisnis ini cukup maskulin, akhirnya ia mencoba masuk, belajar, dan menemukan berbagai tantangan yang justru membuatnya semakin tertarik.
Srikandi yang Visioner
Berada di antara pria membuat Yulina ingin membuktikan, bahwa perbedaan gender bukan suatu masalah.”Kita sama-sama bekerja. Bukan berarti karena saya perempuan, lalu tidak mengerti apapun. Itu yang saya buktikan kepada mereka.”
Ia bahkan sering ikut kumpul-kumpul bersama para karyawan, sambil mendengarkan mereka sharing mengenai berbagai masalah. Hal ini membuat para karyawan merasa dekat dan mau terbuka.
“Saya bisa membawa diri saya sebagai perempuan, sekaligus sebagai atasan,” ujar perempuan yang akrab disapa Lena tersebut.
Tiga tahun pertama ia belajar siang malam, pergi ke lapangan, mengunjungi kantor-kantor cabang, untuk memahami kondisi secara langsung.
Apa yang paling menarik selama tiga tahun tersebut? “Melakukan perubahan. Kita itu kan sifatnya organik. Belajar secara konvensional. Nah, mulai saya masuk dengan teknologi. Jadi tantangan pastinya,” tuturnya.
Beruntung, tidak ada penolakan atas perubahan yang ia lakukan. Seperti dikatakan Adam Ismanto, Head of National TIKI, ”Ketika pimpinan mengatakan sesuatu, tentu sudah dipikirkan baik buruknya. Jadi kami harus support, kita bicarakan, dan disesuaikan dengan kemampuan perusahaan.”
“Jadi, Bu Lena ini visioner. Sebenarnya kami sudah mulai melangkah, tapi kondisi di luar menuntut kita untuk bergerak lebih cepat. Tapi karena semua butuh proses, jadi saya minta ke Ibu, kita bertahap ya Bu? Dan dibolehkan,” lanjut Adam.

