Belajar dari Aurélie, Kenali Ciri-Ciri Child Grooming

child grooming
Share to:
Istilah child grooming tengah ramai dibicarakan, kenali ciri-ciri dan cara mencegahnya - read more

Akhir-akhir ini, sosial media diramaikan dengan istilah “child grooming”. Sebuah istilah yang mengacu pada proses manipulatif yang dilakukan oleh orang dewasa atau individu yang lebih tua untuk mendekati, membangun kepercayaan, serta hubungan emosional dengan anak di bawah umur dengan tujuan eksploitasi, seringkali seksual.

Istilah ini mencuat sejak viralnya buku digital “Broken Strings” karya Aurélie Moeremans. Buku ini adalah sebuah memoar yang menceritakan pengalaman Aurélie sebagai korban child grooming saat berusia 15 tahun.

Broken Strings
Broken Strings

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulis Aurelie pada 3 Januari 2026 dalam unggahannya.

Seperti dialami Aurélie, child grooming biasanya bersifat halus, tidak mudah dikenali, dan berlangsung secara bertahap. Dengan begitu, korban maupun lingkungan sekitar, gagal menyadari bahaya yang sebenarnya.

Mengapa Child Grooming Berbahaya?

Child grooming sangat berbahaya karena secara perlahan melemahkan mekanisme perlindungan alami pada anak. Akibatnya, anak kesulitan mengenali bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan.

Dampak child grooming dapat berlangsung dalam jangka panjang dan bersifat merusak, di antaranya:

  • Trauma mendalam dan gangguan stres pascatrauma (PTSD)
  • Depresi serta gangguan kecemasan
  • Rendahnya rasa percaya diri
  • Hilangnya kepercayaan terhadap orang dewasa dan figur otoritas
  • Kesulitan membangun hubungan yang sehat
Ciri-ciri Child Grooming 

Belajar dari pengalaman Aurélie ini, penting bagi kita untuk mengenali ciri-ciri atau tanda-tanda  Child Grooming. Semoga, dengan mengenali ciri-ciri ini kita bisa menghindarkan anak atau keluarga kita dari para groomers.

Serangkaian taktik manipulatif biasanya dilakukan oleh pelaku, untuk membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan anak atau keluarga anak. Tujuan akhirnya? Tentu saja, mengeksploitasi anak secara seksual.

  • Trust Building: Pelaku akan berusaha keras untuk disukai dan dipercaya oleh anak, dan sering kali oleh keluarga anak juga. Bisa melibatkan pemberian hadiah, pujian berlebihan, atau bantuan yang terus-menerus.
  • Mengisi Kebutuhan Emosional atau Materi: Pelaku mengidentifikasi dan memanfaatkan kerentanan anak, seperti kebutuhan akan perhatian, kasih sayang, atau bisa jadi, materi.
  • Isolation: Pelaku secara bertahap mencoba mengisolasi anak dari keluarga, teman, dan lingkungan sosial. Mereka mungkin akan menciptakan konflik atau meyakinkan anak bahwa hanya pelaku yang paling memahami atau peduli padanya.
  • Normalisasi Perilaku Tidak Pantas: Pelaku mulai mengenalkan sentuhan fisik atau percakapan yang tidak pantas, dan membuat anak merasa bahwa perilaku tersebut normal, rahasia bersama, atau bagian dari “cinta”.
  • Secrecy: Pelaku menekankan pentingnya menjaga rahasia tentang hubungan mereka. Membuat anak takut atau merasa bersalah jika memberi tahu orang lain. Mereka berusaha meyakinkan anak bahwa orang lain tidak akan mengerti.
  • Power Dynamics: Sering kali, pelaku memiliki kekuasaan atau pengaruh terhadap anak, seperti guru, pelatih atau mentor, pemimpin keagamaan, atau anggota keluarga yang lebih tua. Dalam kasus Aurelie, partner kerja yang jauh lebih tua.
  • Boundary Testing: Pelaku secara bertahap menguji dan melanggar batasan pribadi anak, mengamati seberapa jauh mereka bisa melangkah tanpa mendapat perlawanan. Seperti Aurelie yang awalnya tegas bahwa dalam pacaran hanya boleh ciuman, tapi batas itu terpaksa ia langgar karena dimanipulasi oleh “Bobby” sang pelaku.
Mencegah Child Grooming

Lalu, bagaimana cara kita mencegah terjadinya child grooming? Ada beberapa cara yang disarankan Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk orang tua, keluarga, pengasuh, hingga lingkungan sekitar, yaitu:

  • Edukasi Tentang Batasan: Ajarkan anak mengenai batasan yang sehat dalam hubungan dengan orang dewasa.
  • Pengawasan Aktivitas Online: Mengingat child grooming bisa terjadi di ranah digital, maka perlu pemantauan ekstra terhadap aktivitas online anak dan tekankan bahayanya berinteraksi dengan orang asing di internet.
  • Komunikasi Terbuka: Orang tua perlu menciptakan lingkungan di mana anak merasa nyaman berbicara tentang pengalamannya.
See also  McDonald’s dan McKids Dukung Orang Tua Siapkan Masa Depan Anak 

Jika kamu mencurigai adanya aktivitas grooming atau pelecehan anak, penting untuk segera melapor ke pihak berwenang atau lembaga perlindungan anak. Kamu juga dapat mencari bantuan dan informasi lebih lanjut dari lembaga terkait seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

By: Kazuri Team

Photo: Courtesy of Aurélie Moeremans & unsplash